1.perkembangan sejarah Olahraga Petanque
Pada abad ke-9 SM, Penemuan alat permainan boules pada sebuah makam Mesir purba yang berumur 7000 SM. Pada abad ke-6 SM, bangsa Yunani kuno sudah memainkan permainan boules dengan alat berbentuk koin, kepingan batu atau bola batu. Pada awal masehi, bangsa Romawi telah memainkan boules dengan bola kayu yang di beri paku-paku.Pada abad pertengahan, permainan petanque telah dimainkan diseluruh eropa dikenal dengan sebutan boules. Para legenda menegaskan bahwa pemain yang bernama loulis yang dipuja- puji yang lumpuh karena artritis tidak dapat berdiri lama dan mengantarkan boule.Karena merasa sedih melihat mantan juara itu absen, rekan sesama pemain membawanya (di kursinya) ke permukaan bermain. mereka menggambar lingkaran di tanah di sekeliling kursinya dan menyatakan bahwa setiap orang sekarang harus melempar dari dalam lingkaran dengan kedua kaki di tanah.Dengan demikian petanque, dari "ped tanca" provencal atau "kaki terikat" lahir.Menurut para Legenda Ciri pasti petanque ada dua yaitu, medan/lapangan pendek dan lemparan statis dengan kaki diikat. Pada tahun 1907, di kota Le Ciotat, dekat Marseille, provence, Perancis, seorang pemain Lyonnaise Perancis bernama “Jules Boule Lenoir” memodifikasi permainan boules menjadi permainan petanque, dengan bentuk lapangan setengah dari lapangan boules dan dari gerakan melempar bergerak menjadi stationer. Petanque berasal dari bahasa occitan yakni “Les Pen Tanco” yang berarti “kaki Rapat”.Sejarah petanque berawal pada abad ke-6 SM orang Yunani Kuno telah memainkan permainan melempar koin, batu datar, dan bola batu, disebut spheristics. Permainan dengan menambahkan target yang harus didekati sedekat mungkin adalah hasil modifikasi dari bangsa Romawi Kuno. Yang membawa variasi Romawi ke Frovence adalah pelaut dan tentara Romawi. Sebuah makam Romawi di Florence menunjukkan orang bermain permainan ini, membungkuk untuk mengukur poin. Perkembangan setelah itu masyarakat Roma, menggantikan bola batu dengan bola kayu, dan memberi mereka bobot yang lebih besar.
Kejuaraan petanque pertama, aturan baru diselenggarakan pada tahun 1910 oleh Ernest saudara dan Joseph Pitiot, pemilik sebuah kafe di La Ciotat. Induk organisasi olahraga Petanque dunia adalah Fédération de Pétanque et Jeu Provençal (FIPJP) yang didirikan di Marseille, Prancis pada tahun 1958.
3.1. Olahraga Petanque di Dunia
Ratusan tahun olahraga petanque berada di dunia belum diketahui siapa penemunya, namun negara Prancis yang telah mensosialisasikan olahraga petanque ini. menurut Ihsan N & Hartika R (2022:2-3) menyatakan bahwa, Petanque diucapkan pe.tɑ̃ːk dalam bahasa Prancis atau pay/tah~k atau petong awalnya merupakan permainan tradisional asal negara Prancis yang merupakan pengembangan dari permainan jaman Yunani Kuno sekira abad ke-6 SM, versi modern dari permainan petanque diperkenalkan oleh Jules Boule Lenoir pada tahun 1907 di kota La Ciotat, di Provence, di selatan Prancis. Kata Petanque berasal dari kata Les Ped Tanco atau Petanca berdasar
dialek Provençal dari bahasa Occitan yang berarti “kaki rapat”, salah satu teknik dasar bermain petanque adalah kaki yang rapat tidak mengangkat kaki yang menapak ke tanah. Pemain bermain di lapangan yang berukuran 4 x 15 atau 3 x 12 meter dan pemain melempar jack terlebih dahulu, dimulai dari lingkaran yang berada di tanah. Olahraga petanque bisa dimainkan satu lawan satu, dua lawan dua, dan tiga lawan tiga. Agar bisa dikembangkan sebagai cabang olahraga prestasi permainan tradisional ini distandarkan dan dibuat aturan baku yang berlaku universal, dengan induk olahraga petanque internasional bernama Fédération Internationale de Pétanque et Jeu Provençal (FIPJP) yang didirikan di Marseille, Prancis pada tahun 1958. Diketuai saat sekarang Mr. Azema, sedangkan untuk wilayah Asia di bawah Association Petanque and Sport Boules Confederation (APSBC) yang bermarkas di Singapura
dengan diketuai Mr. Eddi Lim. Kemudian, diubah menjadi Thee Asian Of Boules Sport Confederation (ABSC). Sebagai ketua Tan Sri Dato Seri Mohamad Noor Abdul Rahim dari Malaysia.
3.2. Olahraga Petanque di Indonesia
Petanque merupakan olahraga baru bagi Indonesia yang dipertandingkan di SEA GAMES XXVI tahun 2011 di Palembang, Indonesia. Federasi Olahraga Petanque Indonesia terbentuk pada tanggal 18 Maret 2011. Berdirinya Venue Petanque di komplek olahraga Jakabaring yang representatif sebagai pusat pelatihan dan pembinaan sebagai bentuk pemanfaatan aset Petanque pasca SEA GAMES. Indonesia mengenal olahraga petanque sejak lama namun tidak diketahui pastinya. Di Indonesia, olahraga ini hanya dimainkan oleh kaum ekspatriat/orang-orang asing yang bekerja di Indonesia melalui perkumpulan-perkumpulan ekspatriat seperti International Sport Club Indonesia (ISCI) di Ciputat jakarta dan Jakarta Petanque Club di Ragunan Jakarta. Beberapa hotel seperti Hotel Novotel Lombok memiliki fasilitas bermain bermain petanque di arena pasir pantai kuta Lombok.Pada tahun 2002, Jakarta petanque club telah menghubungi Komite Olahraga Nasional (KONI) untuk pengembangan olahraga ini, namun masih belum mencapai hasil yang baik.
Pada tahun 2011, Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah SEA GAMES XXVI-2011 di kota Jakarta dan Palembang, dan salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan adalah petanque dimana telah dipertandingkan di SEA GAMES sejak SEA GAMES tahun 2001 tepatnya di Kuala Lumpur Malaysia. KONI Provinsi Sumatra Selatan menunjuk PDPDE (Perusahaan Daerah Provinsi Sumatra Selatan) untuk membentuk wadah organisasi petanque dan sekaligus mencari, menseleksi atlet dan kepelatihan untuk menghadapi pertandingan SEA GAMES cabang olahraga petanque. Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan Sebagai tuan rumah SEA GAMES XXVI-2011 di Palembang telah membangun venue pertandingan petanque yang bertaraf Internasional di Jakabaring Sport Center kota Palembang dengan memiliki 10 lane untuk latihan dan 8 lane untuk pertandingan. Pengembangan selanjutnya pasca SEA GAMES XXVI-2011 dan untuk menghadapi kegiatan multievent Nasional dan Internasional, FOPI ditunjuk oleh KONI untuk segera membangun struktur FOPI dan mengembangkan olahraga ini di seluruh Indonesia.
Pada tahun 2015 cabang olahraga petanquetelah terdaftar dalam keanggotaan KOI dan KONI pusat dan olahraga petanque sudah terdaftar sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan dalam multievent Internasional seperti Sea Games, Asean Beach Games dan multievent Nasional contohnya POMNAS 2015 yang diselenggarakan di Aceh dan PON 2016 yang diadakan di Jawa Barat. Melihat perkembangan olahraga Petanque Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Jambi bergerak cepat untuk menjadi pelopor terbentuknyaperkembangan Petanque di Provinsi Jambi.Perjuangan untuk mengembangkan Petanque dimulai sejak 12 Desember 2015 sesaat setelah terbentuknya kepengurusan petanque Provinsi Jambi.Fakultas Ilmu Keolahragaan membangun lapangan Petanque ala kadarnya namun dengan semangat yang kuat untuk berprestasi. Pada PON XIX tahun 2016 di Jawa Barat kontingen Petanque Provinsi Jambi yang atletnya merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan mampu meraih 1 medali emas, 1 medali perak dan 3 medali perunggu. Prestasi yang membanggakan sangat luar biasa mengingat usiapetanque Jambi yang masih seumur jagung.
3.3.Sejarah perkembangan di Aceh
Olahraga petanque pertama kali ada di aceh tahun 2015. Ketua Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) yaitu Abdurrahman yang merupakan salah satu dosen dari UNSYIAH yang ditunjuk sebagai pemegang mandat untuk pembentukan menjadi pengurus Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Aceh. Setelah dilantik, sebut Rahman, mulailah dibentuk pengurus di Pengkab FOPI di Aceh. Untuk mengerakan olahraga yang masih belum membudaya ini, Rahman dan pengurus FOPI Aceh mempercayai alumni JP0K FKIP USK yang berstatas Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga & Kesehatan (P JKOK) yang tersebar di seluruh Aceh. Namun walau sudah terbentuk, olahraga ini gagal tampil di PORA pada tahun 2018, karena saat itu hingar bingar Pilkada sedang berlangsung, akhirnya olah raga baru ini tidak masuk hitungan untuk mengadu ketangkasan di PORA. Seiring dengan perkembangan waktu, kini FOPI Aceh telah memiliki seorang arbiter (wasit) yang bersertifikat nasional dan 2 orang arbiter daerah. Novi Lidya Isdarianti, S.Pd., M.Pd, Dosen Kontrak BLU USK (arbiter nasional) dan dua arbiter daerah Ridwansyah, S.Pd, M.Pd dan Hardian, S.Pd, keduanya admin kontrak BLU USK. Mereka bertiga merupakan pemain petanque yang pernah mendapatkan medali di Kejuaraan Petanque Antar Perguruan Tinggi Se-Indonesia yang ke-3 tahun 2017 dan diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Bina Guna Medan. Untuk mendapatkan sertifikat arbtre juga harus mengikuti ujian dan pesertanya harus memiliki kemampuan, baru dia dinyatakan lulus. Olahraga ini sebenarnya olah raga kekeluargaan, dimana para atlet dapat menali dan menenangi persoalan dilapangan, ketika ada perbedaan atau konflik dilapangan, baru dibutuhkan arbiter untuk menyelesaikan persoalan. Karena olahraga ini belum diminati khalayak ramai dan merupakan olahraga baru, dan pengurusnya mayoritas orang dalam dunia pendidikan, maka mereka yang mau mengikuti pelatihan dan ujian arbtre juga dari lingkungan dunia pendidikan. Kita doakan nanti bermunculan arbtre lainya dari berbagi profesi,” sebut Rahman. Saat itu tim Petanque USK menjadi Juara Umum dengan perolehan medali 3 emas, 1 perak dan 2 perunggu. Olahraga petanque tidak hanya diperlukan arbtre saja, namun juga sangat ditentukan oleh petugas meja (control table). Petugas ini memegang peranan penting untuk pelaksanaan suatu pertandingan, agar tidak terjadi kesalahan fahaman para pemain dalam menentukan score hasil pertandingan.
Perkembangan petanque di Aceh tergolong sangat pesat dan kini menjadikan provinsi ini sebagai salah satu kekuatan utama di tingkat nasional. Olahraga ini mulai dikenal secara formal di Aceh sekitar tahun 2012, ketika Universitas Syiah Kuala (USK) memperkenalkannya di lingkungan akademis setelah melihat potensinya pada SEA Games 2011. Dari kampus inilah bibit-bibit atlet dan pelatih mulai muncul, sehingga penyebarannya ke berbagai kabupaten/kota seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Besar berlangsung cepat. Setelah Pengurus Provinsi FOPI Aceh resmi terbentuk, pembinaan semakin masif dilakukan melalui jalur pendidikan dan klub-klub lokal dengan dukungan penuh dari KONI Aceh. Hasilnya, atlet-atlet Aceh mulai mendominasi ajang nasional seperti POMNAS dan kualifikasi PON, bahkan secara konsisten menyumbangkan medali emas. Kesuksesan ini tidak lepas dari pembangunan fasilitas lapangan yang representatif serta status petanque sebagai cabang olahraga prioritas di daerah. Kini, Aceh tidak hanya menjadi basis pengembangan petanque yang kuat, tetapi juga menjelma sebagai kiblat prestasi yang disegani di Indonesia.
Petanque berkembang pesat di Aceh sejak diperkenalkan sekitar tahun 2015, ditandai dengan partisipasi dalam POMNAS XIV 2015 di Banda Aceh. FOPI Aceh berprestasi tinggi, menjadi juara umum di berbagai kejuaraan nasional (2015-2022) dan mengukuhkan posisi sebagai salah satu kekuatan utama petanque Indonesia, dengan persiapan atlet intensif untuk PON 2024. Petanque berkembang pesat di Aceh sejak diperkenalkan sekitar tahun 2015, ditandai dengan partisipasi dalam POMNAS XIV 2015 di Banda Aceh. FOPI Aceh berprestasi tinggi, menjadi juara umum di berbagai kejuaraan nasional (2015-2022) dan mengukuhkan posisi sebagai salah satu kekuatan utama petanque Indonesia, dengan persiapan atlet intensif untuk PON 2024.Awal Mula dan Ekshibisi (2015): Olahraga petanque mulai dikenal luas di Aceh seiring dengan ditunjuknya Aceh sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIV pada tahun 2015, di mana ekshibisi petanque mulai dipertandingkan.
Prestasi Nasional dan Internasional:
Juara Umum: FOPI (Federasi Olahraga Petanque Indonesia) Aceh berhasil meraih gelar juara umum di tingkat nasional sebanyak empat kali antara tahun 2015 hingga 2022.
Kejurnas: Meraih juara umum pada kejuaraan antar perguruan tinggi se-Indonesia di Medan (2017), Pra-PON 2019, dan Kejurnas di Jawa Timur.
Internasional: Menjuarai event double openMDKS di Malaysia (2019) dan meraih prestasi di kejuaraan dunia petanque di Iran.
Perkembangan Sarana dan Dukungan: KONI Aceh memberikan dukungan penuh kepada atlet, termasuk persiapan 11 atlet untuk PON 2024, di mana Aceh menargetkan membawa pulang tiga medali emas. Ekosistem Olahraga: Pasca 2015, petanque semakin populer di Aceh, ditandai dengan rutinnya kejuaraan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh FOPI Aceh dan klub-klub lokal. Keberhasilan petanque di Aceh tidak lepas dari konsistensi pembinaan atlet sejak diperkenalkan di tingkat mahasiwa dan didukung oleh komitmen tinggi pengurus daerah. Hal ini sesuai dengan pendapat Gustopo dkk. (2017:02) yang menyatakan bahwa : “Pengurus Provinsi Federasi Olahraga Petanque Indonesia (Pengprov FOPI) Aceh terbentuk pada tanggal 2 Mei 2015 melalui Surat Keputusan Ketua Umum PB FOPI Pusat Nomor 09SK/FOPI/2015 yang dilaksanakan di lapangan petanque UNSYAH. Sejak saat itu perkembangan olahraga petanque di Aceh menunjukkan kemajuan yang signifikan, ditandai dengan keikutsertaan dalam ajang POMNAS XIV Aceh 2015 sebagai cabang eksebisi yang diikuti oleh 14 provinsi dari total 34 provinsi di Indonesia”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar