Minggu, 28 September 2025

PENGERTIAN POPULASI, SAMPEL DAN JENIS-JENIS SAMPLING

 

pengertian populasi, sampel dan jenis-jenis sampling.

1.      Populasi

Populasi adalah keseluruhan individu, objek, atau kejadian yang memiliki karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk tujuan penelitian. Dalam konteks penelitian, populasi menjadi fokus utama yang ingin dipelajari agar peneliti dapat memahami fenomena tertentu secara lebih mendalam. Misalnya, jika seorang peneliti ingin menyelidiki perilaku berolahraga di kalangan mahasiswa, populasi yang diteliti dapat mencakup semua mahasiswa di suatu universitas, dengan karakteristik yang meliputi usia, jenis kelamin, dan jurusan studi. Penentuan populasi yang jelas sangat penting karena membantu peneliti dalam mengumpulkan data yang relevan dan representatif. Dengan mengidentifikasi karakteristik yang spesifik, peneliti dapat memastikan bahwa data yang dikumpulkan mencerminkan kondisi yang sebenarnya di lapangan. Data ini kemudian dianalisis untuk menarik kesimpulan yang dapat diaplikasikan pada populasi yang lebih luas. Selain itu, dalam banyak kasus, peneliti tidak selalu melakukan penelitian terhadap seluruh populasi. Peneliti sering mengambil sampel dari populasi tersebut untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.

Pengambilan sampel ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan informasi yang valid tanpa harus menguji setiap individu dalam populasi, yang mungkin tidak praktis atau memakan waktu. Dengan pemahaman yang baik tentang populasi, peneliti dapat menghindari bias dan memastikan bahwa hasil penelitian mencerminkan realitas yang ada. Selain itu, peneliti dapat mengidentifikasi variabel-variabel yang penting untuk dianalisis, sehingga hasilnya dapat memberikan wawasan yang berguna untuk pengambilan keputusan atau pengembangan kebijakan yang berkaitan dengan fenomena yang diteliti. Populasi menurut Sugiyono (2017:215) adalah “Wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa keseluruhan objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti. Dengan kata lain, populasi mencakup semua elemen yang menjadi fokus studi. Misalnya, jika seorang peneliti ingin mempelajari kebiasaan olahraga di kalangan mahasiswa, populasi yang dimaksud bisa mencakup semua mahasiswa di universitas tertentu. Karakteristik yang ditetapkan di sini adalah status sebagai mahasiswa. Setelah peneliti menentukan populasi, mereka bisa mengambil sampel dari populasi tersebut untuk penelitian. Hasil analisis dari sampel ini kemudian digunakan untuk menarik kesimpulan yang bisa digeneralisasi kembali ke seluruh populasi.

Kemudian di lanjutkan oleh Suryani dan Hendryadi (2015:190-191) “Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau benda yang memiliki karakteristik tertentu dan dijadikan objek penelitian”. Maksud dari kutipan tersebut adalah Populasi adalah sekumpulan individu, kejadian, atau objek yang memiliki karakteristik tertentu dan menjadi fokus dalam suatu penelitian. Karakteristik ini bisa berupa usia, jenis kelamin, lokasi, perilaku, atau atribut lainnya yang relevan dengan tujuan penelitian. Misalnya, Sekelompok pemain bola basket di sebuah liga, misalnya semua pemain di Liga Bola Basket Indonesia (IBL). Karakteristik yang ditetapkan adalah status sebagai pemain bola basket profesional. Dengan mendefinisikan populasi ini, peneliti dapat mengumpulkan data mengenai performa permainan, kebiasaan latihan, atau dampak cedera, dan menarik kesimpulan yang dapat diaplikasikan kepada seluruh pemain dalam liga tersebut. Dengan menentukan populasi, peneliti dapat mengumpulkan data yang relevan dan menarik kesimpulan yang dapat diaplikasikan kembali ke seluruh kelompok tersebut.

Populasi memberikan konteks yang jelas untuk penelitian dan membantu peneliti memahami fenomena yang ingin diteliti. Sujarweni (2016:4) menguatkan bahwa “Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Maksud dari definisi tersebut adalah bahwa populasi mencakup seluruh elemen atau individu yang menjadi fokus penelitian. Elemen-elemen ini memiliki karakteristik dan kualitas tertentu yang ditentukan oleh peneliti sesuai dengan tujuan studi. Contohnya, jika seorang peneliti ingin mempelajari kebiasaan berolahraga di kalangan remaja, maka populasi yang dimaksud bisa berupa semua remaja di suatu daerah tertentu. Karakteristik yang ditetapkan adalah usia (remaja) dan kebiasaan berolahraga. Dengan menentukan populasi, peneliti dapat mengumpulkan data dari seluruh kelompok ini. Setelah data dianalisis, peneliti dapat menarik kesimpulan yang mencerminkan pola atau tren yang ada dalam populasi tersebut. Kesimpulan ini bisa digunakan untuk memahami fenomena lebih luas yang relevan dengan karakteristik yang diteliti.

a.       Populasi Terbatas

Populasi Terbatas (Finite Population) adalah populasi yang dapat dihitung jumlahnya. Namun, terkadang populasi terbatas sangat besar, sehingga dapat diperlakukan sebagai populasi tak terbatas untuk kesimpulan statistic (generalisasi). Misalnya, jumlah kelahiran pertahun, jumlah kendaraan yang melintas di jalan tol dan jumlah mahasiswa dalam suatu universitas.

b.      Populasi Tak Terbatas

Populasi tak terbatas merupakan populasi yang tidak memungkinkan untuk dihitung jumlahnya secara keseluruhan. Misalnya, menguhitung jumlah ikan di lautan dan jumlah bakteri di dalam tubuh.

2.      Sampel

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu. Sampel akan diambil jika peneliti tidak sanggup untuk melakukan penelitian dengan mengambil data langsung dari populasi. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili keseluruhan kelompok dalam suatu penelitian. Pemilihan sampel penting karena memungkinkan peneliti mengumpulkan data tanpa harus menguji seluruh populasi, yang seringkali tidak praktis. Sampel harus dipilih secara hati-hati agar mencerminkan karakteristik populasi, sehingga hasil penelitian dapat diandalkan. Ada berbagai metode pengambilan sampel, seperti pengambilan sampel acak, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, dan pengambilan sampel bertujuan, di mana individu dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Ukuran sampel juga penting; sampel yang terlalu kecil dapat menghasilkan hasil yang tidak representatif, sementara sampel yang terlalu besar mungkin tidak efisien. Dengan menggunakan sampel, peneliti dapat melakukan analisis statistik untuk menarik kesimpulan tentang populasi yang lebih luas. Hasil dari analisis ini memberikan wawasan berharga untuk pengambilan keputusan di berbagai bidang.

Menurut Bahri (2018:51) “Sampel merupakan sebagian dari populasi, atau kelompok kecil yang diamati”. Hal ini menjelaskan tentang Sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan dalam penelitian atau analisis untuk mewakili karakteristik atau perilaku populasi secara keseluruhan. Populasi merujuk pada keseluruhan individu atau objek yang memiliki karakteristik tertentu yang sedang diteliti. Dalam banyak kasus, tidak mungkin atau tidak praktis untuk mengamati seluruh populasi, sehingga peneliti memilih sampel, yang terdiri dari sejumlah individu yang diambil dari populasi tersebut. Tujuan dari pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi yang valid dan dapat diandalkan tentang populasi dengan cara yang lebih efisien. Melalui analisis sampel, peneliti dapat menarik kesimpulan atau generalisasi tentang populasi tanpa perlu mengamati setiap individu. Ada berbagai metode pengambilan sampel, seperti sampling acak, sampling stratifikasi, dan sampling sistematis, yang dapat mempengaruhi representativitas sampel. Secara keseluruhan, sampel merupakan alat penting dalam riset untuk memahami dan menarik kesimpulan tentang populasi yang lebih besar. Dilanjutkan oleh Neolaka (2014:42) yang mengatakan bahwa “Sampel adalah sebagian unsur populasi yang dijadikan objek penelitian, sampel atau juga sering disebut contoh adalah wakil dari populasi yang ciri-cirinya akan diungkapkan dan akan digunakan untuk menaksir populasi”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil untuk tujuan penelitian. Dalam konteks ini, sampel berfungsi sebagai wakil dari populasi yang lebih besar. Dengan kata lain, ciri-ciri atau karakteristik yang ada pada sampel diharapkan dapat mencerminkan ciri-ciri populasi secara keseluruhan.

Maksud dari pernyataan diatas adalah bahwa peneliti tidak perlu mengamati setiap individu dalam populasi, yang sering kali tidak praktis atau memakan waktu. Sebagai gantinya, peneliti memilih sejumlah individu dari populasi untuk dijadikan sampel. Informasi yang diperoleh dari sampel ini kemudian digunakan untuk membuat estimasi atau analisis tentang populasi secara umum. Teknik sampling yang digunakan dalalm peneltian dengan menggunakan random sampling yaitu. Pemgambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata. Sampel yang digunakan sebanyak 80 responden dari populasi sebanyak 100 responden. Dilanjutkan oleh Sugiyono, (2017:81) “Sampel ialah bagian dari populasi yang menjadi sumber data dalam penelitian, dimana populasi merupakan bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi”. Pernyataan tersebut menjelaskan hubungan antara sampel dan populasi dalam konteks penelitian. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk menjadi sumber data. Dalam hal ini, populasi merujuk pada keseluruhan individu atau objek yang memiliki karakteristik tertentu yang sedang diteliti. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa populasi terdiri dari berbagai karakteristik yang ada pada semua anggotanya. Namun, karena mengamati seluruh populasi sering kali tidak praktis atau tidak mungkin, peneliti memilih sampel. Sampel ini diharapkan mencerminkan karakteristik yang ada dalam populasi. Melalui analisis data yang diperoleh dari sampel, peneliti dapat menarik kesimpulan atau membuat generalisasi mengenai populasi secara keseluruhan. Keberhasilan penelitian bergantung pada seberapa representatif sampel tersebut terhadap populasi yang lebih besar.

3.      Jenis-jenis sampling

Pengambilan sampel atau sampling merupakan proses penting dalam penelitian yang menentukan kualitas dan validitas data yang diperoleh. Sampling adalah teknik atau metode yang digunakan untuk memilih sebagian unit dari populasi agar dapat mewakili keseluruhan populasi tersebut. Sampling adalah proses pemilihan sejumlah individu atau objek dari populasi untuk dijadikan sampel dalam penelitian. Tujuan utama dari sampling adalah untuk mendapatkan informasi atau data yang representatif tentang populasi tanpa perlu mengamati seluruh anggota populasi. Dengan menggunakan teknik sampling, peneliti dapat membuat estimasi atau generalisasi mengenai karakteristik populasi berdasarkan analisis sampel yang diambil. Ada berbagai metode sampling, seperti sampling acak, sampling stratifikasi, dan sampling sistematis, yang masing-masing memiliki cara dan tujuan yang berbeda dalam pemilihan sampel. Proses sampling yang baik sangat penting untuk memastikan bahwa hasil penelitian dapat diandalkan dan valid. Pemilihan jenis sampling harus disesuaikan dengan tujuan penelitian, karakteristik populasi, serta kondisi lapangan. Teknik sampling yang tepat akan menghasilkan sampel yang representatif sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi dengan baik. Secara umum, sampling dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu probability sampling dan non-probability sampling. Masing-masing jenis memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami oleh peneliti agar dapat memilih metode yang paling sesuai.

Menurut Nazir (2015), "Sampling adalah proses pengambilan sebagian unit dari populasi yang akan diteliti”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa sampling adalah tindakan memilih sebagian unit dari populasi yang akan dijadikan objek penelitian. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa peneliti tidak perlu melihat atau mengamati seluruh populasi, yang sering kali tidak praktis atau memakan waktu. Sebagai gantinya, peneliti hanya mengambil sebagian kecil dari populasi tersebut, yang dikenal sebagai sampel. Proses ini bertujuan untuk mendapatkan data yang dapat mewakili karakteristik atau perilaku populasi secara keseluruhan.

 Kemudian, Sugiyono melanjutkan (2017) yang menjelaskan bahwa "Sampling dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu probability sampling dan non-probability sampling." Probability sampling memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota populasi untuk dipilih sebagai sampel, sehingga hasilnya lebih representatif dan dapat digeneralisasi. Contoh teknik ini antara lain simple random sampling, stratified sampling, dan cluster sampling. Sebaliknya, non-probability sampling tidak memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota populasi dan biasanya digunakan dalam penelitian eksploratif atau ketika populasi sulit dijangkau.

Arikunto (2013) menambahkan bahwa “Probability sampling lebih cocok untuk penelitian kuantitatif karena memberikan hasil yang lebih objektif, sedangkan non-probability sampling sering digunakan dalam penelitian kualitatif. Pemilihan jenis sampling harus disesuaikan dengan tujuan dan kondisi penelitian agar data yang diperoleh valid dan dapat dipercaya”. Pernyataan tersebut menjelaskan perbedaan antara dua jenis teknik pengambilan sampel: probability sampling dan non-probability sampling, serta relevansi masing-masing dalam konteks penelitian kuantitatif dan kualitatif. Probability Sampling adalah teknik di mana setiap individu dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Metode ini cenderung menghasilkan data yang lebih objektif dan dapat diandalkan. Dalam penelitian kuantitatif, di mana tujuan utama adalah untuk membuat generalisasi dan analisis statistik, penggunaan probability sampling sangat penting. Dengan cara ini, hasil yang diperoleh lebih representatif dan mencerminkan karakteristik populasi secara keseluruhan. Non-Probability Sampling, di sisi lain, tidak memberikan setiap anggota populasi kesempatan yang sama untuk dipilih. Teknik ini sering digunakan dalam penelitian kualitatif, yang lebih fokus pada pemahaman mendalam tentang fenomena atau pengalaman individu. Metode ini memungkinkan peneliti untuk memilih sampel berdasarkan kriteria tertentu atau kemudahan akses, yang dapat memberikan wawasan yang lebih kaya tetapi mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih besar.

 

 

 

1.      Non-Probability Sampling

Teknik Non-Probability Sampling adalah metode pengambilan sampel dimana tidak semua anggota dalam sebuah populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Artinya, terdapat perbedaan dalam kesempatan yang umumnya diakibatkan oleh subjektifitas peneliti dalam memilih sampel dari antara populasi. Dalam kenyataannya tidak selalu peneliti dapat menggunakan probability sampling yang diambil seeara random. Misalnya bila tidak ada sampling frame yang lengkap misalnya karena tidak mengetahui besamya populasi, maka tidak dapat menggunakan probability sampling. Keunggulan-keunggulan Non-Probability Sampling adalah murah, digunakan bila tidak ada sampling frame dan digunakan bila populasi menyebar sangat luas sehingga cluster sampling menjadi tidak efisien. Pengambilan sampel dengan teknik Non-Probability Sampling terdiri dari 4 teknik, yaitu:

a.       Purposive Sampling.

Purposive sampling adalah sebuah cara untuk mendapatkan sampel dengan memilih sampel di antara populasi sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti. Pada teknik ini peneliti memilih sampel purposif bertujuan secara subyektif. Pemilihan “sampel bertujuan” ini dilakukan karena mungkin saja peneliti telah memahami bahwa informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dari satu kelompok sasaran tertentu yang mampu memberikan informasi yang dikehendaki karena mereka memang memiliki informasi seperti itu dan mereka memenuhi kriteria yang ditentukan oleh peneliti. Terdapat dua jenis Purposive Sampling yaitu Judgment Sampling dan Quota Sampling seperti yang akan dijabarkan berikut ini:

1)      Judgment Sampling

Sampel ini dipilih dengan menggunakan pertimbangan tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian atau masalah penelitian yang dikembangkan. Misalnya, karena peneliti menyadari bahwa yang memiliki informasi “baik dan benar” mengenai sekolah adalah seorang guru, maka ia menentukan sampelnya adalah para guru bukan kepala sekolah.

2)      Quota Sampling

Quota Sampling ini dilakukan berdasarkan kuota yaitu jumlah tertinggi untuk setiap kategori dalam populasi sasaran. Kuota responden dapat dilakukan berdasarkan jenis industri, skala perusahaan. Sampling kuota sering digunakan dalam riset pasar. Peneliti ingin mendapatkan kasus dengan karakteristik yang sama, maka peneliti menentukan kuota untuk jenis orang yang akan diwawancarai dan kuota tersebut disusun sedemikian rupa sehingga pada akhirnya diharapkan dapat mewakili populasi.

Langkah yang diambil adalah:

a) Memutuskan karakteristik yang dapat mewakili misalnya umur

b) Cari tahu distribusi dari variabel ini dalam populasi dan atas dasar itu tentukan kuotanya. Misalnya bila 15 % dari populasi adalah orang dengan umur antara 20-30 %. Sementara jumlah sampel yang diharapkan adalah 1.000, maka 150 sampel (15%) adalah mereka yang ada para kelompok umur ini.

b.      Consecutive Sampling

Cara ini diterapkan dengan memilih sampel setelah sebelumnya menetapkan kriteria yang harus dipenuhi. Sampel diambil dalam suatu kurun waktu yang telah ditetapkan oleh peneliti sampai jumlah sampel terpenuhi. Misalnya seorang peneliti akan meneliti sekolah swasta tingkat SMA dengan pemasaran terbaik dalam satu provinsi. Maka peneliti memutuskan hanya memiliki 1 sekolah perkabupaten yang memiliki jumlah peminat terbanyak.

c.       Convinience Sampling

Metode ini menggunakan subjektifitas peneliti (spontanitas). Jika peneliti menilai bahwa sebuah subjek memenuhi kriteria dan kesempatan peneliti juga ada, maka pengambilan data dilakukan. Tetapi jika peneliti merasa bahwa penelitian harus dihentikan, maka penelitian pun harus dihentikan. Pada teknik ini, peneliti hanya sekedar menghentikan seseorang di pinggir jalan yang sedang akan ke toko atau yang sedang jalan-jalan di toko atau restoran atau gedung bioskop menghentikan orang lalu bertanya apakah ia bersedia untuk menjawab pertanyaan. Bila ia bersedia, segeralah proses wawancana dilakukan. Dengan kata lain disini sampel terdiri dari orang-orang yang tersedia dan mudah bagi penelitinya untuk memulai wawancara. Dalam teknik seperti ini tidak ada “randomness” dan kemungkinan biasnya tinggi. Sulit untuk menarik sebuah konklusi yang mendalam dari hasil yang diperoleh. Namun demikian metode ini kadang kala merupakan satu-satunya yang mungkin dilakukan, khususnya bagi para mahasiswa atau mereka yang memiliki waktu dan dana yang terbatas, bila demikian, metode inidapat digunakan sepanjang dijelaskan juga berbagai keterbatasannya. Karena teknik ini merupakan pendekatan yang sangat acak-sembarangan, beberapa peneliti pemula akan cenderung tergoda untuk menggunakan kata “random-acak” dalam menjelaskan sampel mereka dimana mereka secara acak menyetop orang dipinggir jalan dan hal ini dipandangnya sebagai sesuai yang random.

d.      Snowball Sampling

Dalam pendekatan ini, peneliti mula-mula mengontak beberapa responden potensial dan menanyakan mereka apakah mereka mengenal seseorang dengan karakteristik yang sama yang dicari dalam penelitian ini, Misalnya jika peneliti ingin memawancarai seorang manajer penjualan, peneliti harus mencari manajer penjualan yang dikenal lalu meminta tolong padanya untuk mencarikan lagi manajer penjualan selevel dia yang dapat dijadikan sampel. Teknis lebih dominan menujukkan rekomendasi sampling, dimana para sampel akan saling merekomendasikan rekan- rekan lainnya yang layak dijadikan sampel rekomendasi untuk menguatkan data penelitian.

2.      Probability Sampling

Secara sederhana, probability sampling adalah metode pengambilan sampel dimana keseluruhan anggota populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk terpilih. Artinya, kemungkinan untuk terpilih sebagais sampel memiliki peluang yang sama besar dan merata untuk setiap unit dalam populasi. Teknik pengambilan sampel untuk metode ini adalah sebagai berikut:

a. Metode Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

Metode acak sederhana diterapkan pada populasi yang sangat homogen. Itu sebabnya, dimanapun dan siapapun yang terpilih, tidak akan mempengaruhi hasil yang didapatkan. Metode yang digunakan biasanya adalah mendaftar seluruh populasi lalu dengan sistem lotere, didapatkanlah sampel sesuai dengan besar sampel yang telah ditetapkan sebelumnya. Cara lain yang biasanya digunakan juga adalah dengan menggunakan table bilangan random. Tabel bilangan random biasanya tersedia di buku yang membahas metodologi penelitian. Dengan menggunakan table Krejcie-Morgan dengan tingkat kesalahan (5 %). Misalnya seorang peneliti akan meneliti dengan jumlah populasi 300 orang maka menurut tabel Krejcie-Morgan jumlah sampelnya 169 orang

b. Metode Sistematis (Sistematic Sampling)

Metode ini adalah sebuah metode yang sistematis. Asumsi yang digunakan sama dengan metode yang sebelumnya, yaitu bahwa terdapat distribusi yang homogeny di dalam populasi. Dengan menggunakan jarak yang merupakan pembagian antara populasi dengan sampelnya, maka ditemukan sebuah pola. Misalnya pada jika jumlah populasi adalah sebesar 200 orang sementara jumlah sampel adalah 10 orang, maka sampel terpilih adalah urutan yang sesuai dengan (100/10=10), yaitu sampel nomor urut 1, 10, 20,30,40,50,60,70,80,90, dan100. Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan.

c. Metode Acak Berlapis (Stratified Random Sampling)

Metode ini digunakan jika di dalam populasi terdapat berbedaan atau strata tertentu. Teknik sampling dalam pengambilan sampel pada penelitian ini digunakan dengan teknik dimana sampel penelitian atau responden ditentukan menggunakan strata keluarga. Contoh: Dosen Universitas Budi Darma Sejahtera dengan jumlah 300 orang dikelompokkan berdasarkan strata pendidikan terakhir yaitu (S1=170, S2=100, dan S3=30), dengan menggunakan tabel Krejcie-Morgan dengan tingkat kesalahan (5 %), jumlah sampel penelitian ini adalah 169 orang. Dengan demikian berdasarkan perhitungan, sebagai berikut:

1) Tamatan S1=170/300 x 169 =96 orang

2) Tamatan S2=100/300 x 169 = 56 orang

3) Tamatan S3=30/300 x 169 =169 orang

Jadi jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian adalah 169 orang\

 

d. Metode Kelompok/Gugus (Cluster Sampling)

Metode cluster sampling adalah metode dimana diasumsikan bahwa populasi memiliki kelompok-kelompok yang satu sama lain memiliki karakteristik yang hampir sama. Itu sebabnya penelitian terhadap satu kelompok saja dianggap merupakan penelitian terhadap populasi tersebut. Teknik ini dgunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti sangat luas. Penduduk dari sebuah kabupaten, provinsi, atau level negara. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Misalnya di Indonesia dengan provinsi 38 dan sampelnya menggunakan 15 provinsi pengambilan provinsi itu dilakukan secara random. Namun pengambilan secara random perlu dibuat cluster (kelas) sehingga lebih mudah dalam pengambilam sampel. Misalnya ukurannya yang paling banyak penduduknya, yang paling luas hutannya, yang paling tinggi pendapatan daerahnya, yang paling miskin provinsinya, dan lainnya sebagainya.

e. Metode Bertahap (Multistage Sampling)

Dalam keadaan dimana terdapat populasi yang sangat besar dengan tingkat sebaran yang luas disertai karakteristik yang sangat berbeda-beda, maka diperlukan metode pengambilan sampel yang mengkombinasikan seluruh metode. Metode ini disebut sebagai multistage sampling. Memilih teknik sampling yang paling tepat tentunya tidak mudah. Diperlukan pengetahuan terhadap populasi. Semakin homogen populasi semakin mudah menentukan teknik samplingnya karena diasumsikan bahwa teknik sampling tidak akan mempengaruhi kualitas data. Akan tetapi semakin tidak homogeny sebuah populasi diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang harus dikombinasikan dengan kemampuan peneliti, waktu, dana, tenaga serta ketersediaan data-data di populasi itu sendiri.

Minggu, 21 September 2025

LATAR BELAKANG MASALAH

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Pembinaan olahraga merupakan usaha yang memerlukan proses untuk mencapai prestasi puncak. Pembinaan yang dilakukan tersebut akan sesuai dengan harapan apabila dilaksanakan secara efisien, sitematik, dan berkelanjutan, karena suatu proses pembinaan olahraga membutuhkan waktu yang lama. Olahraga bukan hanya rekreasi atau untuk kesenangan dalam permainan saja, namun olahraga juga mempunyai peran penting dalam membangun karakter dan kesehatan masayarkat. Dalam membangun karakter dan membentuk kesehatan pada masyarakat  memerlukan berbagai upaya sistematik yang dilakukan untuk meningkatkan berbagai aspek yang mecakup tujuan dari pembinaan olahraga. Aspek-aspek tersebut mempunyai tiga aspek utama yang dilakukan untuk meningkatkan prestasi atlet, memperluas partisipasi masyarakat, dan mempromosikan gaya hidup sehat. Dalam meningkatkan prestasi atlet dapat dilakukan dengan berbagai program seperti pelatihan yang sistematis, meliputi teknik dasar, taktik dan juga kekuatan fisik yang terkoordinasi. Begitu pula dengan partisipasi masyarakat dengan menyelenggarakan acara keolahragaan seperti perlombaan olahraga lokal atau kegiatan kebugaran dilingkungan masyarakat agar masyarakat berinisiatif untuk mendorong semua kalangan masyarakat, dari anak-anak hingga orang dewasa. Selanjutnya mempromosikan gaya hidup sehat dengan mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat olahraga dan aktivitas fisik bagi kesehatan. Pembinaan olahraga di Indonesia merupakan suatu sistem yang bersifat holistik, karena menggabungkan keseluruhan aspek agar dapat menghasilkan atlet yang berprestasi dan juga masyarakat yang aktif dalam menjaga pola hidup sehat. Hal ini sesuai dengan pendapat Menurut Ria Lumintuarso (2013: 15) yang menyatakan bahwa: “Perkembangan prestasi olahraga merupakan akumulasi dari kualitas fisik, teknik, taktik dan kematangan psikis olahragawan yang disiapkan secara sistematis melalui proses pembinaan yang benar”. Pendapat diatas menjelaskan bahwa  perkembangan prestasi merupakan proses pengumpulan atau penumpukan dari kualitas fisik, teknik dan kemampuan mental dan emosional yang dimiliki oleh  atlet yang menggunakan pendekatan terstruktur dalam pengembangan atlet dengan baik dan benar.

Bola basket merupakan salah satu olahraga yang semakin populer di Indonesia, baik di kalangan anak muda maupun masyarakat umum. Upaya ini melibatkan berbagai aspek, mulai dari pengembangan infrastruktur, penyelenggaraan pelatihan, hingga penyelenggaraan kompetisi. Pembinaan sangat penting terlihat dari peningkatan kualitas pelatih yang kompeten. Pelatih yang kompeten meliputi proses pembinaan olahraga membutuhkan waktu lama yang mencakup memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang memadai dalam bidang olahraga bola basket. Saat ini, Indonesia memiliki potensi besar dalam olahraga bola basket sehingga untuk mencapai tujuan yang diinginkan sangat dibutuhkan pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Pengembangan bola basket meningkat pesat terhadap pengembangan bola basket yang telah meningkat, dengan berbagai inisiatif yang dilakukan oleh asosiasi olahraga, klub dan lembaga pendidikan. Hal ini harus disesuaikan dengan program-program kepelatihan yang sesuai dengan pembelajan bola basket. Program pelatihan yang dirancang untuk memudahkan Pembina mengajarkan teknik dasar, strategi permainan, serta pengembangan fisik dan mental atlet yang begitu diperlukan. Infrastruktur yang lengkap juga sangat penting, seperti pembangunan lapangan bola basket dan fasilitas latihan lain yang baik dapat memungkinkan atlet untuk berlatih dengan efektif. Latihan yang efektif meliputi proses latihan ynag dirancang untuk memaksimalkan hasil dan kemajuan atlet melalui tujuan yang jelas, terstruktur, bervariasi umpan balik serta memberikan kualitas gerakan dan kondisi fisik dan mental yang cukup baik. Melalui pembinaan yang berkelanjutan dan komprehensif, bola basket di Indonesia bukan hanya menghasilkan prestasi membanggakan, tetapi juga dapat menciptakan generasi muda yang sehat dan berkarakter. Hal ini diungkapkan pula oleh Setiawan (2018:102), yang menjalaskan bahwa, “Pembinaan olahraga yang berkelanjutan tidak hanya berfokus pada prestasi, tetapi juga pada pengembangan karakter dan kesehatan generasi muda”. Pendapat ini menjelaskan bahwa dengan adanya pembinaan olahraga yang berkelanjutan dapat membentuk individu yang tidak hanya unggul pada bidang prestasi saja, tetapi juga yang memiliki karakter yang kuat dan mempunyai kesehatan yang baik.

Sebagai cabang olahraga yang sangat polpuler di dunia, Bola basket dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terikat erat. Sejumlah faktor ini sangat penting dan saling mendukung dalam upaya agar mencapai prestasi yang tinggi. Salah satu faktor utama adalah kemampuan fisik, yaitu setiap atlet harus mempunyai kekuatan, daya tahan, kecepatan dan juga kelincahan agar dapat beradaptasi penuh dengan dinamika permainan bola basket. Dengan memiliki kemampuan fisik yang baik tidak hanya meningkatkan performa dilapangan, namu juga dapat mengurangi resiko cedera yang dapat menghambat perkembangan karier seorang atlet. Kemudian dilanjutkan dengan faktor penguasaan teknik yang sangat melekat dalam permainan bola basket. Setiap atlet harus menguasai berbagai keterampilan dalam permainan bola basket, seperti dribbling, shooting, passing serta pertahanan, agar dapat berkontribusi dengan baik dalam tim ketika permainan bola basket. Pelatihan yang berfokus pada pengembangan teknik ini dapat membantu atlet agar dapat mengoptimalkan potensi setiap atlet, sehinnga mampu menjalankan strategi permainan dengan efektif selama pelatihan atau bahkan perlombaan bola basket. Selanjutnya, taktik dan strategi juga sama pentingnya dalam permainan bola basket. Pemahaman mendalam tentang berbagai taktik dan strategi seperti formasi, pergerakan setiap tim, dan juga pengambilan keputusan yang cepat dalam situasi darurat saat permainan juga dapat memberikan keunggulan yang komperatif. Pelatihan juga harus melibatkan simulasi situasi yang dialami atlet dalam permainan nyata memungkinkan atlet untuk berlatih dalam kondisi yang mendekati permainan bola basket yang sesungguhnya, sehingga para atlet dapat mengasah keterampilan dalam bidang taktis dan strategis dengan baik. Lalu, tidak kalah pentingnya dengan faktor-faktor yang lain adalah aspek mental dan psikologis. Ketahanan mental kuat, mengatasi tekanan dan mengembangkan kepercayaan diri dapat menjadi kunci utama bagi atlet ketika menjalani kompetensi yang berada dalam kondisi dan situasi yang sering kali menuntut. Pembinaan mental mencakup teknik relaksasi, visualisasi, dan pengembangan sikap positif yang bertujuan untuk mempersiapkan atlet untuk mengatasi dan menghadapi tantangan dilapangan. Hal ini dikuatkan dengan pendapat dari Sudibyo Setyobroto. 2001:53) yang menyatakan “ketahanan mental adalah kondisi kejiwaan yang bersifat dinamis yang mengandung kesanggupan untuk mengembangkan kemampuan dalam keadaan bagaimanapun juga, baik menghadapi gangguan dan ancaman dari luar maupun keadaan dirinya sendiri”. Pernyataan diatas menjelaskan bahwa ketahanan mental ini sangat penting untuk setiap atlet, yaitu mengandung kesanggupan dalam mengembangkan kemampuan dalam kondisi apapun baik dari lingkungan sekitar maupun dari dalam diri atlet.

Dalam pelaksanaan kegiatan latihan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) basket memiliki definisi yang melibatkan proses dari berbagai elemen untuk meningkatkan berbagai keterampilan individu serta kinerja dalam tim. Biasanya kegiatan latihan yang diawali dengan pemanasan, yang dimana setiap peserta harus melakukan stretching dan latihan kardio ringan seperti sprint yang memiliki tujuan untuk mencegah cedera. Selanjutnya, setiap anggota tim dapat berlatih teknik-teknik dasar terlebih dahulu seperti dribbling, dan shooting passing. Pada tahapan ini, pelatih terlebih dahulu memberikan intrusi dan demonstrasi agar semua anggota tim dapat memahami teknik dengan baik dan benar. Latihan taktik juga menjadi elemen penting dalam setiap sesi, dimana tim harus berlatih skema permainan yang mencakup formasi dan juga pergerakan di lapangan yang akan berlangsung serta mendiskusikan strategi penyerang dan bertahan terhadap tim. Meskipun kegiatan latihan sudah dirancang sebegitu bagus untuk meningkatkan ketermpilan dan kerja sama, namun sering juga muncul permasalah yang menghambat efektivas taktik dan strategi. Salah satu masalah yang sangat umum terjadi adalah kurangnya komunikasi yang efektif antar sesama anggota tim. Tanpa adanya komunikasi yang baik, anggota tim akan kesusahan untuk mengoordinasikan gerakan dan strategi secara efektif. Misalnya, ketika satu pemain tidak menyampaikan posisinya dengan jelas, pemain lain bisa saja terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan saat permainan berlangsung. Hal ini diperjelas oleh Gunawan R (2015:78) yang menerangkan “Kurangnya komunikasi dalam tim dapat mengakibatkan kesalahpahaman dan konflik, yang pada gilirannya dapat menghambat pencapaian tujuan bersama”. Keterangan diatas menjelaskan bahwa komunikasi adalah hal yang begitu penting sehingga menjadi salah satu kunci untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dan konflik dalam tim sehingga mengakibatkan penghambatan capaian tujuan yang sudah disusun jauh hari sebelum permainan berlangsung.

Jumat, 05 September 2025

JENIS-JENIS PENELITIAN

 

JENIS PENELITIAN

1.    Pendekatan

Pendekatan merupakan langkah awal pembentukan suatu ide dalam memandang suatu masalah atau objek kajian, yang akan menentukan arah pelaksanaan ide tersebut untuk menggambarkan perlakuan yang diterapkan terhadap masalah atau objek kajian yang akan ditangani. Pendekatan yaitu sebuah filosofi atau landasan sudut pandang dalam melihat bagaimana proses pembelajaran dilakukan sehingga tujuan yang diharapkan tercapai. Pendekatan merujuk pada cara atau metode yang digunakan untuk memahami, menganalisis, atau menyelesaikan suatu masalah. Dalam konteks penelitian, pendekatan mencakup strategi dan teknik yang diterapkan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data. Ada beberapa jenis pendekatan yang umum digunakan, seperti pendekatan kuantitatif yang berfokus pada data numerik dan analisis statistik, serta pendekatan kualitatif yang menekankan pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial melalui wawancara dan observasi.

Pendekatan campuran juga sering digunakan, menggabungkan elemen dari kedua pendekatan tersebut untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif. Pendapat dari (Wahjoedi, 1999:121) mengenai pengertian pendekatan adalah cara mengelola kegiatan belajar dan perilaku siswa agar ia dapat aktif melakukan tugas belajar sehingga dapat memperoleh hasil belajar secara optimal. Pendekatan menurut Gulo (dalam buku Suprihatingrum, 2013:146) “adalah titik tolak atau sudut pandang kita dalam memandang seluruh masalah yang ada dalam program belajar-mengajar. Sudut pandang tertentu tersebut menggambarkan cara berpikir dan sikap seorang guru dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi”. Menurut Sanjaya (2008:127) “Pendekatan dapat dikatakan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih sangat umum”.

a.    Kuantitatif

Pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mendasarkan diri pada paradigma postpositivist dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Beberapa ciri khas pendekatan kuantitatif adalah: bersandar pada pengumpulan dan analisis data kuantitatif (numerik), menggunakan strategi survei dan eksperimen, mengadakan pengukuran dan observasi, melaksanakan pengujian teori dengan uji statistik. kuantitatif merujuk pada pendekatan yang berfokus pada pengukuran dan analisis data yang dapat dinyatakan dalam angka. Dalam penelitian atau analisis, metode kuantitatif sering digunakan untuk mengumpulkan data melalui survei, eksperimen, atau pengamatan yang dapat dihitung dan dianalisis secara statistik. Pendekatan ini mengutamakan hasil yang objektif dan dapat direproduksi. Data yang dikumpulkan biasanya dalam bentuk angka dan dianalisis menggunakan metode statistik. Contoh penggunaannya dapat dilihat dalam survei kepuasan pelanggan yang menghasilkan data dalam bentuk persentase atau eksperimen yang mengukur efek suatu variabel terhadap variabel lain dalam satuan yang terukur.

Pendekatan kuantitatif sangat berguna dalam bidang ilmu sosial, kesehatan, pemasaran, dan banyak disiplin lainnya, di mana analisis numerik dapat memberikan wawasan yang berguna. Menurut Sugiyono (2020:16), kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk memeriksa populasi atau sampel tertentu dan mengumpulkan data menggunakan alat penelitian, menganalisis data kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditentukan. V. Wiratna Sujarweni (2014:39) menegaskan bahwa, “kuantitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara lain dari kuantifikasi (pengukuran)”. Sedangkan pengertian Kuantitatif, menurut Sugiyono (2017:8) adalah Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positifisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang ditetapkan. Penelitian kualitatif juga masih dibagi menjadi 5 jenis penelitian, yaitu fenomenologi, penelitian grounded theory, penelitian etnografi. Ini detail dan penjelasan lengkapnya!

1)   Fenomenologi. Penelitian fenomenologi ini artinya peneliti yang melakukan penelitian akan melakukan pengumpulan data melalui observasi partisipan untuk dapat mengetahui fenomena esensial partisipan apa yang ada di dalam hidupnya atau sepanjang pengalaman hidupnya.

2)   Penelitian Grounded Theory. Jenis penelitian selanjutnya adalah penelitian grounded theory yang mana peneliti dapat menggeneralisasi apa saja yang ia amati atau ia analisis secara induktif. Teori abstrak mengenai proses, tindakan, atau interaksi dapat dilakukan dan didapat berdasarkan pandangan partisipan yang diteliti.

3)   Penelitian Etnografi. Di dalam jenis-jenis penelitian etnografi, peneliti akan melakukan studi terhadap budaya suatu kelompok dalam kondisi yang alamiah dan dilakukan melalui proses observasi dan atau wawancara.

4)   Penelitian Studi Kasus. Penelitian studi kasus akan mengenal lebih dalam atau memahami secara mendalam mengenai alasan suatu fenomena atau kasus tersebut bisa terjadi. Kemudian dari situ akan dikembangkan menjadi riset selanjutnya. Jenis penelitian ini nantinya akan dijadikan bahan untuk menguji hipotesis.

5)   Penelitian Narrative Research. Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan sebuah studi terhadap seseorang individu atau lebih untuk dapat mendapatkan data mengenai sejarah perjalanan kehidupannya yang kemudian disusun menjadi laporan naratif yang kronologis.

 

b.   Kualitatif

Penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang merupakan investasi sistematis mengenai sebuah fenomena atau situasi dengan mengumpulkan data yang dapat diukur menggunakan teknik statistik, matematika, atau komputasi. Pada jenis-jenis penelitian kuantitatif, peneliti memiliki tujuan untuk mengembangkan dan menggunakan berbagai model sistematis, berbagai teori, dan hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam yang sedang terjadi. Pada intinya, penelitian kuantitatif merupakan suatu proses pengukuran. Proses pengukuran yang dilakukan dapat memberikan hubungan antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari adanya hubungan-hubungan kuantitatif. Biasanya penelitian kuantitatif ini digunakan dan diterapkan baik dalam ilmu alam maupun ilmu fisika. Berbeda dengan penelitian kualitatif yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, penelitian kuantitatif ini berlandaskan filsafat positivisme yang dipakai untuk meneliti sekumpulan populasi atau sampel tertentu. Pengumpulan data yang dilakukan biasanya menggunakan alat ukur atau instrumen penelitian dan analisis data yang bersifat kuantitatif atau statistik. Penelitian kuantitatif dibagi menjadi beberapa jenis-jenis penelitian, yaitu metode survei dan metode eksperimen.

1)   Metode Survei. Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode penelitian survei yang artinya metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan suatu data yang terjadi, baik pada masa lampau atau saat ini mengenai keyakinan, pendapat, karakteristik, dan hubungan variabel yang dapat digunakan untuk menguji beberapa hipotesis. Biasanya, hipotesis yang diuji bisa berupa variabel sosiologis dan atau psikologis dari sampel yang diambil dari populasi tertentu.Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui pengamatan yang diambil dari wawancara atau kuesioner dan dari hasil penelitian yang cenderung digeneralisasikan.

2)   Metode Eksperimen. Jenis-jenis penelitian di dalam penelitian kuantitatif selanjutnya adalah metode eksperimen. Di dalam metode eksperimen, metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen yang berupa treatment atau perlakuan terhadap hasil atau variabel dependen dan kondisi yang tak terkendalikan. Agar kondisi hasil atau variabel dependen dapat dikendalikan, maka di dalam penelitian eksperimen bisa menggunakan kelompok kontrol. Salah satu cara yang sering dilakukan pada metode eksperimen ini adalah melakukan penelitian di laboratorium.

 

2.    Penggunaan

Penggunaan yaitu yang merujuk pada cara atau tindakan memanfaatkan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam berbagai konteks, seperti teknologi, sumber daya, atau produk, penggunaan mencakup cara dan metode di mana suatu objek atau sistem digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau menyelesaikan masalah. Penggunaan dapat dikategorikan dalam beberapa cara, seperti penggunaan efektif yang menunjukkan pemanfaatan sumber daya secara optimal, atau penggunaan efisien yang menekankan pada pengurangan pemborosan. Dalam konteks teknologi, misalnya, penggunaan perangkat lunak atau aplikasi dapat merujuk pada bagaimana pengguna berinteraksi dengan fitur-fitur yang tersedia untuk meningkatkan produktivitas. Menurut kegunaan, jenis penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu: penelitian terapan (applied research) dan penelitian dasar (basic research). Kedua jenis penelitian ini memiliki tujuan yang berbeda, walaupun dalam dimensi riset yang sama. Penelitian dasar bertujuan untuk menemukan dasar teori/pengembangan ilmu pengetahuan dan output yang dihasilkan adalah publikasi jurnal baik nasional maupun internasional. Sedangkan penelitian terapan bertujuan untuk memecahkan permasalahan praktis atau menghasilkan produk karya yang dipatenkan.

a.      Penelitian Dasar

Penelitian dasar merupakan studi sistematis untuk memperoleh pengetahuan atau pemahaman baru tentang fenomena fundamental, tanpa mempertimbangkan aplikasi atau penggunaan praktisnya secara spesifik pada suatu proses atau produk saat penelitian dilakukan. Penelitian dasar adalah suatu kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan dan memperdalam pemahaman teoritis mengenai fenomena atau masalah tertentu. Penelitian ini tidak berorientasi pada aplikasi praktis secara langsung, melainkan berfokus pada pengumpulan dan analisis data untuk menghasilkan pengetahuan baru yang bersifat murni. Dalam penelitian dasar, peneliti berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental yang dapat berkontribusi pada pengembangan teori dalam suatu disiplin ilmu. Penelitian ini sering kali melibatkan eksperimen, observasi, atau analisis data yang mendalam, dan hasilnya dapat digunakan sebagai dasar bagi penelitian terapan di masa mendatang.

Tujuan utamanya adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu dan mengembangkan pengertian umum tentang hukum-hukum alam dan fakta-fakta yang ada, yang hasilnya akan menjadi pengetahuan dasar yang lebih luas. Menurut (Sujarweni 2015, 12) penelitian dasar (basic research) adalah: “Penelitian yang disebut juga penelitian murni (pure research) atau penelitian pokok (fundamental research) adalah penelitian yang dipergunakan untuk mengembangkan teori yang sudah ada atau menemukan teori-teori baru suatu ilmu pengetahuan, memberikan sumbangan besar terhadap pengembang serta pengujian teori-teori yang akan mendasari penelitian terapan. Misalnya penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan prilaku manusia. Hasil penelitian dasar tersebut sering digunakan sebagai landasan bagi penelitian terapan”. Dilanjutkan oleh Jujun S.Suriasumantri dalam Sugiyono (2016, 9) yang menyatakan “penelitian dasar adalah penelitian yang bertujuan menemuka pengetahauan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui”. Setelahnya, Menurut Arikunto (2010, 15) mengungkapkan “penelitian dasar adalah penelitian yang menekankan pada pengembangan teori dan pemahaman fenomena tanpa fokus pada penerapan praktisnya”.

b.      Penelitian Terapan

Penelitian terapan merupakan pendekatan penelitian yang bertujuan untuk memecahkan masalah praktis yang dihadapi dalam berbagai konteks, seperti masyarakat, industri, atau lingkungan. Penelitian ini menggunakan teori dan konsep ilmiah yang ada untuk mengembangkan solusi yang konkret dan dapat diterapkan secara langsung. Dalam penelitian terapan, peneliti mengarahkan fokusnya pada pertanyaan atau masalah yang nyata dan relevan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan teori yang telah ada, peneliti merancang dan melaksanakan studi dengan sistematis, menggunakan metode ilmiah dalam pengumpulan dan analisis data untuk memastikan hasil yang valid dan dapat diandalkan. Hasil dari penelitian terapan diharapkan dapat langsung diterapkan untuk memperbaiki kondisi atau situasi yang ada.  Lebih lanjut, Penelitian terapan adalah suatu bentuk penelitian yang dirancang untuk mengatasi masalah praktis yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan penelitian dasar yang lebih berfokus pada pengembangan teori dan pemahaman konseptual, penelitian terapan berorientasi pada penerapan hasil penelitian untuk memberikan solusi konkret terhadap isu-isu yang dihadapi oleh masyarakat, industri, atau bidang tertentu.

Penelitian ini merupakan penelitian terapan karena penelitian ini akan menjawab permasalahan yang sudah dirumuskan. Menurut (Sujarweni 2015, 13) penelitian terapan merupakan: “Penelitian yang dipergunakan untuk memecahkan masalah yang ada di suatu tempat misalnya organisasi, instansi, perusahaan. Penelitian terapan dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan yang khusus atau untuk membuat keputusan tentang suatu tindakan atau kejadian khusus”. Ditegaskan oleh Nasution (1996, 25) menyatakan bahwa “penelitian terapan bertujuan untuk menerapkan pengetahuan teoritis dalam konteks praktis untuk menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat”. Kemudian Sugiyono (2016, 10) melanjutkan, “Penelitian terapan adalah penelitian yang bertujuan untuk memecahkan masalah praktis di lapangan dengan menggunakan teori yang ada. Penelitian ini mengarah pada aplikasi hasil penelitian untuk tujuan tertentu”.

 

1)      Penelitian Evaluasi

Penelitian evaluasi merupakan suatu pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menilai atau mengevaluasi efektivitas, efisiensi, dan dampak dari suatu program, kebijakan, atau intervensi tertentu. Penelitian ini sering digunakan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, kesehatan, sosial, dan manajemen, untuk menentukan seberapa baik suatu inisiatif mencapai tujuan yang ditetapkan. Penelitian evaluasi melibatkan pengumpulan data yang sistematis untuk menganalisis berbagai aspek dari program yang sedang dievaluasi. Ini mencakup penentuan kriteria evaluasi, pengumpulan data melalui survei, wawancara, observasi, atau analisis dokumen, serta penafsiran hasil yang diperoleh. Tujuannya adalah untuk memberikan umpan balik yang konstruktif kepada pemangku kepentingan, seperti pengelola program, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Penelitian evaluasi adalah proses sistematis mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data untuk menilai efektivitas, nilai, atau manfaat suatu program, tindakan, kebijakan, atau objek lain dibandingkan dengan tujuan atau standar yang ditetapkan, dengan tujuan untuk memberikan informasi guna mendukung pengambilan keputusan dan perbaikan lebih lanjut. Penelitian evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas suatu program, berdasarkan hasil informasi dari orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.

Weiss dalam Sugiyono (2013: 741) mengemukakan penelitian evaluasi adalah merupakan penelitian yang menggunakan cara yang sistematis untuk mengetahui efektivitas suatu program, tindakan atau kebijakan atau obyek lain yang diteliti bila dibandingkan dengan tujuan atau standar yang diterapkan.Menurut Ralph Tyler dalam Suharsimi Arikunto (2013:3) evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum dan apa sebabnya. sebagian pendapat yang lebih luas dikemukakan oleh dua orang ahli lain, yakni Chronbach dan Stufflebeam dalam Suharsimi Arikunto (2013:3). Tambahan definisi tersebut adalah bahwa penelitian evaluasi bukan sekadar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan. Zainal Arifin (1991:1) menyebutkan ada dua hal pokok yang harus diperhatikan dalam penelitian evaluasi. Pertama, bahwa evaluasi merupakan suatu tindakan. Kedua, bahwaevaluasi dimaksudkan untuk menentukan nilai sesuatu.

2)      Penelitian Pengembangan

Penelitian pengembangan merupakan suatu metode ilmiah untuk menghasilkan dan memvalidasi produk atau model baru, serta menguji keefektifannya dalam konteks pendidikan atau bidang lainnya. Penelitian pengembangan adalah suatu pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menciptakan, menguji, dan memperbaiki produk, metode, atau sistem baru. Penelitian ini sering digunakan dalam bidang pendidikan, teknologi, kesehatan, dan industri untuk menghasilkan inovasi yang dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas dalam praktik. Proses penelitian pengembangan biasanya terdiri dari beberapa tahap, mulai dari perencanaan dan desain, pengembangan prototipe, hingga pengujian dan evaluasi. Dalam tahap awal, peneliti mengidentifikasi kebutuhan atau masalah yang ada dan merumuskan tujuan pengembangan yang jelas. Selanjutnya, mereka menciptakan produk atau metode baru berdasarkan teori dan penelitian sebelumnya. Penelitian pengembangan juga mengutamakan kolaborasi antara peneliti dan praktisi di lapangan. Ini berarti bahwa peneliti sering bekerja sama dengan para profesional atau pemangku kepentingan yang memiliki pengalaman langsung dalam konteks di mana produk atau metode baru akan diterapkan. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa hasil penelitian benar-benar relevan dan dapat digunakan dalam praktik sehari-hari.

Selama proses penelitian, peneliti harus melakukan pengamatan dan pengumpulan data secara sistematis untuk mengevaluasi dampak dari inovasi yang dihasilkan. Ini mencakup pengukuran hasil, seperti peningkatan efisiensi, efektivitas, atau kepuasan penggunaan. Menurut Sugiyono (2009: 297), “penelitian pengembangan atau research and development (R&D) adalah aktifitas riset dasar untuk mendapatkan informasi kebutuhan pengguna (needs assessment), kemudian dilanjutkan kegiatan pengembangan (development) untuk menghasilkan produk dan mengkaji keefektifan produk tersebut. Penelitian pengembangan terdiri dari dua kata yaitu research (penelitian) dan development (pengembangan)”. Selanjutnya, Seels dan Richey dalam Achmad Noor Fatirul dan Djoko Adi Walujo (2022:7) mengemukakan bahwa “penelitian pengembangan adalah penelitian yang mengkaji tentang desain, pengembangan dan evaluasi program, proses dan produk pembelajaran secara sistematis dengan memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan efektifitas”. Sedangkan menurut Zakariah et al. dalam Sari et al. (2023:77) menyatakan “penelitian pengembangan adalah penelitian yang dilakukan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut”.

3)      Penelitian Aksi

Penelitian aksi (action research) menurut para ahli adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolaboratif yang dilakukan oleh peneliti atau praktisi untuk memecahkan masalah praktis secara nyata, dengan tujuan meningkatkan praktik, pengetahuan, serta memahami situasi tertentu secara kolektif.  Penelitian aksi adalah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mengatasi masalah praktis melalui tindakan langsung dan refleksi. Metode ini sering digunakan dalam konteks pendidikan, komunitas, dan organisasi, di mana peneliti dan peserta terlibat secara aktif dalam proses penelitian untuk menciptakan perubahan positif. Proses penelitian aksi dimulai dengan identifikasi masalah yang ingin dipecahkan. Peneliti, yang biasanya juga merupakan bagian dari komunitas atau organisasi tersebut, bekerja sama dengan anggota lainnya untuk merumuskan tujuan dan rencana tindakan. Setelah itu, tindakan atau intervensi dilakukan untuk mengatasi masalah yang telah diidentifikasi. Menurut Arikunto, Supardi, & Suhardjono, (2021:4) “penelitian aksi adalah penelitian yang menceritakan apa saja yang terjadi ketika tindakan dilakukan, dan juga menceritakan seluruh proses dari awal pemberian tindakan sampai dengan dampak dari tindakan yang diberikan kepada subjek penelitian”.

Ditegaskan oleh Armadi (2014: 281) yang mengemukakan bahwa, “penelitian aksi adalah penelitian tindakan yang secara garis besar, peneliti mengenal empat langkah penting yaitu, perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi”. Sementara menurut Kemmis (Maisarah, 2020: 4) menjelaskan, “penelitian aksi yaitu penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh partisipan dalam situasi-situasi sosial untuk memperbaiki praktek yang dilakukannya sendiri”.

3.    Bidang Ilmu

Bidang ilmu adalah suatu kategori atau disiplin yang mengorganisir pengetahuan berdasarkan objek, metode, dan tujuan studi yang spesifik. Setiap bidang ilmu memiliki karakteristik yang membedakannya, termasuk pendekatan metodologis, teori yang digunakan, serta jenis data yang dikumpulkan dan dianalisis. Bidang ilmu berfungsi untuk memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam tentang fenomena tertentu, memungkinkan peneliti dan praktisi untuk fokus pada aspek-aspek khusus dari dunia. Misalnya, ilmu alam mencakup studi tentang fenomena fisik dan biologis, seperti fisika, kimia, dan biologi, yang berusaha menjelaskan hukum-hukum alam. Di sisi lain, ilmu sosial berfokus pada interaksi manusia dan struktur masyarakat, dengan disiplin seperti sosiologi, psikologi, dan ekonomi. Pengelompokan ini tidak hanya memudahkan studi dan penelitian, tetapi juga memungkinkan kolaborasi antar disiplin, di mana pengetahuan dari satu bidang dapat diterapkan untuk memahami atau memecahkan masalah di bidang lain. Selain itu, bidang ilmu sering kali berkembang seiring dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi, sehingga munculnya sub-bidang baru yang lebih spesifik. Bidang ilmu dapat diartikan secara beragam, namun umumnya mengacu pada pengetahuan yang sistematis, rasional, dan empiris yang disusun melalui metode-metode tertentu untuk memahami dunia.

 

a.      Penalitian Pendidikan

Penelitian pendidikan adalah proses sistematis dan logis untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyimpulkan data guna mencari jawaban atas permasalahan pendidikan, mengembangkan teori, dan memberikan solusi untuk inovasi serta pengembangan pendidikan. Penelitian pendidikan harus dilakukan secara rasional, empiris, dan sistematis, serta didasarkan pada landasan filosofis yang kuat untuk menghasilkan pengetahuan yang valid dan bermanfaat bagi pengembangan pendidikan. Penelitian pendidikan adalah proses sistematis yang bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data yang berkaitan dengan berbagai aspek pendidikan. Tujuan utamanya adalah untuk memahami, mengevaluasi, dan meningkatkan proses pembelajaran, kurikulum, serta kebijakan pendidikan yang ada. Dalam penelitian pendidikan, peneliti berusaha mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam konteks pendidikan, menguji hipotesis, dan menghasilkan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam praktik sehari-hari. Penelitian ini dapat melibatkan berbagai metode, baik kualitatif maupun kuantitatif. Metode kualitatif sering mencakup wawancara, observasi, dan analisis dokumen, sementara metode kuantitatif biasanya melibatkan survei dan analisis statistik.

Subjek penelitian ini beragam, mencakup siswa, guru, administrasi sekolah, kurikulum, dan lingkungan pendidikan secara keseluruhan. Peneliti sering kali terlibat langsung dalam konteks pendidikan yang sedang diteliti, sehingga dapat lebih memahami dinamika yang terjadi. Menurut Hadi dan Hariono (2005: 10) “penelitian pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan secara sistematis, logis, dan berencana untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis, dan menyimpulkan data dengan menggunakan metode tertentu untuk mencari jawaban atas permasalahan yang timbul dalam bidang pendidikan”. Selanjutnya, Carter V. Good (1985: 36): “Penelitian pendidikan adalah suatu bangunan pengetahuan sistematis yang mencakup aspek-aspek kuantitatif dan objektif dari proses belajar, dan juga menggunakan instrument secara seksama dalam mengajukan hipotesis-hipotesis pendidikan untuk diuji berdasarkan pengalaman yang sering kali dalam bentuk eksperimen”. Kemudian Driyarkara (1980: 66-67) mengatakan: “penelitian pendidikan adalah pemikiran ilmiah, yakni pemikiran yang bersifat kritis, memiliki metode, dan tersusun secara sistematis tentang pendidikan”.

b.      Penelitian Agama

Penelitian agama menurut para ahli adalah kajian sistematis dan metodologis yang meneliti agama dari berbagai sudut pandang, seperti doktrin, praktik, sosial, dan budaya. Sementara penelitian agama berfokus pada doktrin atau inti ajaran, penelitian keagamaan lebih luas lagi dengan menganalisis agama sebagai fenomena sosial dan kultural yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Penelitian agama (research on religion) merupakan penelitian tentang doktrin agama yang materinya terdapat di berbagai sumber-sumber doktrin agama (misalnya kitab suci). penelitian agama merupakan penelitian tentang materi agama, seperti kajian mengenai ritus, mitos, dan magis, yang diteliti menggunakan perspektif teologis, komparatif, historis, atau psikologis. Dalam penelitian agama, para peneliti berusaha mengidentifikasi dan menjelaskan berbagai keyakinan, tradisi, dan ritual yang dianut oleh pemeluk agama. Dijelaskan menurut Taufik Abdullah (1989, 12), “penelitian agama memiliki makna yang mendua, yaitu penelitian agama sebagai upaya mencari kebenaran agama dan penelitian agama sebagai usaha untuk menemukan dan memahami “kebenaran” dari realitas empiris”. Dilanjutkan oleh Suprayogo dan Tobroni (2003, 15-16) yang mendefinisikan penelitian agama menjadi tiga. Pertama, penelitian agama adalah mencari kembali kebenaran suatu agama untuk mendapatkan agama yang dianggap paling benar. Kedua, penelitian agama berarti metode untuk memahami dan menemukan kebenaran agama sebagai realitas empiris dan penyikapan terhadap realitas tersebut. Ketiga, penelitian agama adalah meneliti fenomena sosial yang ditimbulkan oleh agama dan sikap masyarakat terhadap agama”. Suprayogo dan Tobroni (2003: 17) kemudian menyimpulkan bahwa “penelitian agama yang bersifat akademis adalah “pengkajian akademis terhadap agama sebagai realitas sosial baik berupa teks, pranata sosial, maupun perilaku social yang lahir atau sebagai perwujudan kepercayaan suci”.

c.       Penelitian Bidang Ilmu Lain

Penelitian secara keseluruhan adalah suatu proses sistematis dan ilmiah yang bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data atau informasi mengenai fenomena tertentu. Proses ini dilakukan untuk memahami, mengevaluasi, atau memecahkan masalah, serta menghasilkan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam praktik. Penelitian mencakup berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu sosial, psikologi, ekonomi, lingkungan, dan politik, yang masing-masing memiliki fokus dan metodologi yang berbeda. Meskipun ada variasi dalam pendekatan, semua penelitian memiliki tujuan utama yang sama: untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam dan komprehensif mengenai suatu topik atau isu. Dalam praktiknya, penelitian melibatkan langkah-langkah seperti merumuskan pertanyaan penelitian, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan data melalui berbagai metode (seperti survei, wawancara, atau observasi), menganalisis data tersebut, dan menarik kesimpulan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan, pengembangan teori, atau penerapan kebijakan.

Soerjono Soekanto (2006, 25) menyatakan bahwa penelitian sosial adalah suatu proses sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisis data guna memahami fenomena sosial. Kemudian Hj. Aisyah S. Abdurrahman (2009, 15) mendefinisikan penelitian psikologi sebagai cara sistematis untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan perilaku manusia dan proses mental, dengan tujuan untuk memahami dan memprediksi perilaku tersebut. Dilanjutkan oleh Rudiger Dornbusch dan Stanley Fischer (1994, 12) yang menjelaskan bahwa penelitian ekonomi adalah analisis sistematis mengenai produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa untuk memahami bagaimana masyarakat mengelola sumber daya yang terbatas.

 

4.    Karakteristik Masalah

Karakteristik masalah umumnya menggambarkan kondisi yang menyimpang dari keadaan ideal, menimbulkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan, serta menuntut pemecahan melalui proses ilmiah atau aksi kolektif. Karakteristik masalah adalah atribut atau ciri yang menggambarkan suatu masalah dalam konteks penelitian atau analisis. Memahami karakteristik ini sangat penting untuk merumuskan masalah dengan tepat dan menemukan solusi yang efektif. Salah satu karakteristik utama adalah kejelasan, di mana masalah harus didefinisikan dengan jelas agar semua pihak yang terlibat dapat memahami konteks dan tujuan penelitian. Relevansi juga menjadi faktor penting, karena masalah yang diangkat harus memiliki dampak yang berarti dalam konteks akademis maupun praktis. Kompleksitas masalah sering kali melibatkan berbagai faktor yang saling berinteraksi, sehingga analisis yang mendalam diperlukan untuk memahami dinamika tersebut. Selain itu, masalah harus dapat diukur atau dievaluasi, memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan dan menganalisis hasilnya. Dinamika masalah juga menjadi perhatian, karena masalah dapat berubah seiring waktu atau dalam konteks yang berbeda. Oleh karena itu, peneliti harus mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi masalah tersebut. Terakhir, pentingnya solusi menjadi kriteria utama, di mana masalah yang diangkat memerlukan solusi yang mendorong penelitian untuk mencari jawaban yang dapat diterapkan secara praktis.

a.      Penelitian Historis

Penelitian historis adalah proses sistematis dan kritis untuk mengkaji, menganalisis, dan menafsirkan bukti-bukti serta peninggalan masa lalu guna merekonstruksi dan menjelaskan peristiwa sejarah secara objektif dan dapat dipercaya. Penelitian sejarah merupakan salah satu metodologi penelitian yang dilakukan oleh akademisi, baik itu mahasiswa maupun dosen dan para ahli untuk mengumpulkan data. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan melakukan evaluasi dengan sistematis yang mana tujuannya untuk mendapat gambaran, menjelaskan, dan juga memahami peristiwa. Proses penelitian sejarah harus berdasarkan fakta yang terjadi sehingga tidak ada manipulasi data atau kontrol variabel dalam bentuk apapun seperti dalam penelitian eksperimental lainnya.  Hal ini karena penelitian sejarah merupakan metodologi penelitian yang mencoba merekonstruksi apa yang terjadi dari beberapa periode waktu tertentu dan juga ditangkap dengan lengkap dan seakurat mungkin sehingga tercapai tujuan akhir penelitian sejarah yakni membuat orang mengenal dan belajar mengenai masa lalu. Menurut Borg dan Gall dalam Djamal (2015:103) “Penelitian historis adalah penyelidikan secara sistematis terhadap dokumen dan sumber-sumber lain yang mengandung fakta tentang pertanyaan-pertanyaan sejarawan di masa lampau”. Sementara itu menurut Wiersman dalam Djamal (2015:103) dalam buku yang sama mengungkapkan bahwa penelitian historis adalah proses penyelidikan secara kritis terhadap peristiwa masa lalu untuk menghasilkan deskripsi dan penafsiran yang tepat dan benar tentang peristiwa-peristiwa tersebut. Menurut Alfian (dalam Santoso: 2006, 17) dilanjutkan bahwa, “penelitian historis merupakan seperangkat aturan dan prinsip-prinsip yang sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber secara efektif, menilainya secara kritis, dan mengujikan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tulisan”.

b.      Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan, kondisi, atau fenomena yang terjadi pada saat sekarang, yang bertujuan mendeskripsikan gejala, fakta, atau peristiwa secara mendetail tanpa melakukan generalisasi lebih luas atau menguji hipotesis. Penelitian deskriptif adalah suatu pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan karakteristik, fenomena, atau situasi tertentu secara sistematis dan terperinci. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data untuk memberikan gambaran yang jelas tentang objek yang diteliti tanpa menguji hipotesis atau mencari hubungan sebab-akibat. Penelitian deskriptif sering kali digunakan untuk memahami keadaan saat ini atau untuk mendapatkan informasi tentang populasi atau fenomena tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dapat bervariasi, termasuk survei, observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Data yang dikumpulkan bisa bersifat kualitatif maupun kuantitatif, tergantung pada tujuan penelitian. Ciri khas dari penelitian deskriptif adalah bahwa peneliti tidak melakukan manipulasi terhadap variabel. Sebaliknya, penelitian ini berfokus pada penggambaran fakta dan karakteristik yang ada, sehingga hasilnya dapat memberikan wawasan yang berguna bagi pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan atau perencanaan lebih lanjut.

Menurut Suharsimi Arikunto (2013: 3) bahwa: “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal lain-lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian”. Dilanjutkan oleh Sukardi (2003: 157) adalah: “Menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat”. Sugiyono (2012: 13) menjelaskan: “Penelitian deskriptif yaitu: “Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain”.

c.       Penelitian Korelasional

Penelitian korelasional merupakan metode non-eksperimental yang bertujuan untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa memanipulasi variabel tersebut, dengan tujuan mendeskripsikan dan memprediksi hubungan antara fenomena yang ada secara alami.  Penelitian korelasional adalah suatu pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis hubungan antara dua atau lebih variabel tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data mengenai variabel yang ingin diteliti, seperti perilaku, sikap, atau karakteristik, biasanya melalui survei, kuesioner, atau observasi. Setelah data dikumpulkan, peneliti menggunakan teknik statistik untuk menganalisis hubungan antara variabel-variabel tersebut. Ini dapat mencakup analisis regresi atau korelasi untuk menentukan seberapa kuat dan signifikan hubungan yang ada. Salah satu aspek penting dari penelitian korelasional adalah bahwa peneliti tidak mengubah atau memanipulasi variabel, sehingga penelitian ini berbeda dari penelitian eksperimental yang melibatkan kontrol dan manipulasi variabel.

Menurut Sugiyono (2019, hlm. 70) penelitian asosiatif (korelasional) merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel atau lebih. Creswell (2016, 135) menyebutkan bahwa penelitian korelasional berfokus pada pengukuran hubungan antara variabel-variabel yang ada, sering digunakan untuk menentukan apakah ada kaitan antara variabel yang berbeda. Arikunto (2010, 274)  menjelaskan bahwa penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan hubungan antara dua variabel atau lebih, tanpa melakukan manipulasi. Penelitian ini membantu untuk memahami seberapa kuat hubungan antar variabel yang diteliti.

d.      Penelitian Eksperimen

Penelitian eksperimen adalah metode penelitian untuk mencari hubungan sebab-akibat dengan memanipulasi satu atau lebih variabel independen (bebas) dan mengamati pengaruhnya terhadap variabel dependen (terikat) dalam kondisi yang terkontrol. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat, dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu treatment atau perlakuan terhadap subjek penelitian. Dalam penelitian eksperimen, peneliti menciptakan situasi yang memungkinkan untuk mengamati efek dari perubahan yang dilakukan pada variabel independen. Proses ini sering melibatkan pembagian subjek ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen menerima perlakuan atau intervensi, sementara kelompok kontrol tidak menerima perlakuan tersebut, sehingga perbandingan dapat dilakukan. Menurut Sugiyono (2019: 111) menjelaskan “penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang dilakukan dengan percobaan, yang merupakan metode kuantitatif, digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (treatment/perlakuan) terhadap variable dependen (hasil) dalam kondisi yang terkendalikan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen”. Menurut Sukardi (2011, 179) menyatakan bahwa, “penelitian eksperimen pada prinsipnya dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (causal-effect relationship)”. Selanjutnya, menurut Siregar (2013, hlm. 5) penelitian eksperimen adalah penelitian dengan melakukan sebuah studi yang objektif, sistematis dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena.

e.       Penelitian Komparatif

Penelitian komparatif adalah metode penelitian yang membandingkan satu atau lebih variabel antara dua atau lebih objek penelitian, sampel, atau pada waktu yang berbeda untuk menemukan persamaan dan perbedaan serta menganalisis sebab-akibat suatu fenomena. Penelitian komparatif adalah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk membandingkan dua atau lebih kelompok, variabel, atau fenomena untuk mengidentifikasi perbedaan, persamaan, atau hubungan di antara mereka. Penelitian ini sering kali digunakan untuk mengeksplorasi dan menganalisis berbagai aspek dari subjek yang diteliti, baik dalam konteks sosial, pendidikan, kesehatan, maupun bidang lainnya. Dalam penelitian komparatif, peneliti mengumpulkan data dari kelompok atau variabel yang berbeda dan kemudian menganalisis informasi tersebut untuk menentukan perbedaan dan kesamaan. Misalnya, peneliti mungkin ingin membandingkan hasil belajar siswa dari dua sekolah dengan metode pengajaran yang berbeda, atau membandingkan efektivitas dua jenis terapi dalam pengobatan penyakit tertentu. Salah satu ciri khas dari penelitian komparatif adalah bahwa ia dapat dilakukan dalam pengaturan natural (alamiah) atau terkontrol, tergantung pada tujuan penelitian. Penelitian ini juga dapat bersifat deskriptif, di mana peneliti hanya menggambarkan perbedaan yang ada, atau bersifat analitis, di mana peneliti berusaha untuk menarik kesimpulan dan menjelaskan sebab-sebab perbedaan tersebut.

Menurut Nazir (2005, 58) mengemukakan bahwa, “penelitian komparatif adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya atau munculnya suatu fenomena tertentu”. Lalu,  penelitian komparatif menurut Dra. Aswani Sudjud (Arikunto, 2006 : hlm. 267) adalah untuk menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan tentang benda-benda, tentang orang, tentang prosedur kerja, tentang ide-ide, kritik tehadap orang lain, kelompok, terhadap suatu idea tau prosedur kerja”. Selanjutnya, Sugiyono (2014:53) mengatakan bahwa penelitian desktiptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih variabel (variabel yang berdiri sendiri) tanpa membuat perbandingan atau mancari hubungan variabel satu sama lain.

5.    Tempat Pelaksanaan

 

Tempat pelaksanaan penelitian merujuk pada lokasi atau lingkungan di mana penelitian dilakukan. Pemilihan tempat ini sangat penting karena dapat mempengaruhi hasil dan validitas penelitian. Laboratorium sering digunakan dalam penelitian eksperimen, di mana kondisi yang terkontrol memungkinkan peneliti untuk memanipulasi variabel dan mengurangi pengaruh faktor luar. Dalam konteks pendidikan, banyak penelitian dilaksanakan di sekolah, di mana peneliti dapat mengumpulkan data dari siswa, guru, dan proses belajar mengajar, serta menguji metode pengajaran yang berbeda. Di bidang kesehatan, rumah sakit atau klinik menjadi lokasi yang umum, di mana peneliti dapat mengamati pasien, melakukan wawancara, atau menguji intervensi medis. Penelitian sosial sering dilakukan di lingkungan masyarakat, dengan peneliti melakukan survei atau wawancara di lokasi-lokasi seperti pusat komunitas, tempat ibadah, atau lingkungan tempat tinggal. Dalam penelitian ekologi dan lingkungan, tempat pelaksanaan biasanya adalah habitat alami, di mana peneliti mengamati fenomena yang terjadi untuk mendapatkan data yang lebih realistis. Dengan kemajuan teknologi, banyak penelitian kini dilaksanakan secara daring, menggunakan survei online atau platform digital lainnya untuk mengumpulkan data dari responden yang lebih luas. Pemilihan tempat pelaksanaan harus mempertimbangkan tujuan penelitian, jenis data yang diperlukan, serta faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi hasil penelitian.

a.      Penelitian Kepustakaan

Penelitian kepustakaan adalah metode mengumpulkan dan mengolah data serta informasi dari berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal, dokumen, dan majalah untuk mendukung penelitian yang dilakukan. Penelitian kepustakaan adalah suatu pendekatan penelitian yang berfokus pada pengumpulan dan analisis data yang bersumber dari literatur dan sumber tertulis lainnya. Metode ini sering digunakan untuk mendapatkan informasi yang mendalam mengenai topik tertentu, mengkaji teori yang sudah ada, serta memahami hasil penelitian sebelumnya. Dalam penelitian kepustakaan, peneliti mengumpulkan berbagai jenis sumber, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, tesis, disertasi, laporan penelitian, dan dokumen resmi. Proses ini melibatkan pencarian, pemilihan, dan evaluasi sumber-sumber yang relevan untuk memastikan bahwa informasi yang diperoleh adalah akurat dan terpercaya. Peneliti juga harus mempertimbangkan kredibilitas penulis dan penerbit, serta relevansi sumber dengan topik yang diteliti.

Menurut Zed (2008:3) yang menjelaskan, “Penelitian kepustakaan adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian”. Kemudian Danial dan Warsiah (2009:80) mengungkapkan bahwa, “Penelitian kepustakaan merupakan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan sejumlah buku buku, majalah yang berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian. Sedangkan menurut (Ruslan, 2008:31) menyatakan bahwa, “Penelitian kepustakaan adalah dilakukan mencari data atau informasi riset melalui membaca jurnal ilmiah, buku-buku referensi dan bahan bahan publikasi yang tersedia di perpustakaan”.

b.      Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan merupakan proses pengumpulan data secara langsung di lingkungan alami subjek penelitian untuk memahami perilaku, interaksi, dan fenomena yang terjadi secara mendalam. Penelitian lapangan adalah pendekatan penelitian yang dilakukan di lokasi nyata di mana fenomena atau subjek yang diteliti berada. Metode ini bertujuan untuk mengumpulkan data primer langsung dari sumbernya, sehingga memberikan informasi yang lebih kaya dan kontekstual mengenai situasi yang sedang diteliti. Dalam penelitian lapangan, peneliti sering kali menggunakan berbagai teknik pengumpulan data, seperti wawancara, survei, observasi langsung, atau studi kasus. Kegiatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang perilaku, sikap, dan interaksi individu atau kelompok dalam konteks alami mereka. Salah satu keunggulan penelitian lapangan adalah kemampuannya untuk menangkap dinamika sosial dan budaya yang mungkin tidak terlihat dalam pengaturan terkontrol. Peneliti dapat berinteraksi langsung dengan subjek, memahami konteks, dan mengamati situasi yang berkembang secara real-time.

Namun, penelitian lapangan juga memiliki tantangan, seperti kemungkinan bias, kesulitan dalam mengontrol variabel luar, dan waktu serta biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lain. Peneliti perlu merencanakan dengan hati-hati dan mempertimbangkan etika penelitian, terutama saat berinteraksi dengan subjek di lapangan. Menurut Sugiyono (2013:27) “Penelitian lapangan (Field Research), dilakukan dengan cara mengadakan peninjauan langsung pada instansi yang menjadi objek untuk mendapatkan data primer dan sekunder”. Dilanjutkan oleh Moleong (2012: 26), “Penelitian lapangan (Field Research) dapat juga dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau sebagai metode untuk mengumpulkan data kualitatif”. Diperkuat oleh gagasan dari Arikunto (2010, 145) menyatakan bahwa penelitian lapangan adalah penelitian yang dilakukan di lokasi yang relevan dengan subjek yang diteliti, yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan representatif.

c.       Penelitian Laboratorium

Penelitian laboratorium merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan di lingkungan yang terkontrol (laboratorium) untuk mengatur dan mengendalikan variabel-variabel guna mendapatkan hasil yang akurat dan terverifikasi, serta untuk mencari hubungan sebab-akibat melalui eksperimen. Penelitian laboratorium adalah metode penelitian yang dilakukan dalam kondisi terkontrol di dalam laboratorium. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memanipulasi variabel-variabel tertentu dan mengamati efeknya terhadap variabel lain, sehingga dapat membantu dalam menentukan hubungan sebab-akibat. Dalam penelitian laboratorium, peneliti dapat mengendalikan lingkungan dan kondisi eksperimen, yang membantu meminimalkan pengaruh faktor luar yang dapat memengaruhi hasil. Metode ini sering digunakan dalam bidang sains, teknologi, kesehatan, dan psikologi, di mana eksperimen dapat dilakukan dengan ketelitian yang tinggi. Keuntungan dari penelitian laboratorium termasuk kemampuan untuk mereplikasi eksperimen dan mengontrol variabel yang mungkin memengaruhi hasil. Namun, penelitian ini juga memiliki keterbatasan, seperti kurangnya generalisasi hasil ke situasi dunia nyata, karena lingkungan laboratorium mungkin berbeda dengan kondisi alami.

Menurut Nursalam (2018, 75) menyatakan bahwa, “penelitian laboratorium adalah jenis penelitian yang dilakukan di ruang yang telah dirancang khusus untuk melakukan eksperimen, di mana kondisi dapat dikontrol dengan ketat untuk mendapatkan hasil yang valid”. Ditegaskan oleh Hadi (2014, 98) menjelaskan bahwa “penelitian laboratorium adalah metode penelitian yang memungkinkan peneliti untuk melakukan pengujian secara terkontrol, sehingga dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat antara variable”. Selanjutnya Setiawan (2020, 120) juga mengemukakan bahwa “penelitian laboratorium adalah pendekatan yang melibatkan percobaan dalam kondisi yang terstandarisasi, bertujuan untuk menguji hipotesis dengan memanipulasi variabel dalam lingkungan yang tertutup”.

 

 

OLAHRAGA PETANQUE

  5.        Panduan Dasar Bermain Petanque Olahraga Petanque merupakan cabang olahraga ketepatan yang menuntut kontrol teknik, konsentrasi, ...