Minggu, 28 September 2025

PENGERTIAN POPULASI, SAMPEL DAN JENIS-JENIS SAMPLING

 

pengertian populasi, sampel dan jenis-jenis sampling.

1.      Populasi

Populasi adalah keseluruhan individu, objek, atau kejadian yang memiliki karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk tujuan penelitian. Dalam konteks penelitian, populasi menjadi fokus utama yang ingin dipelajari agar peneliti dapat memahami fenomena tertentu secara lebih mendalam. Misalnya, jika seorang peneliti ingin menyelidiki perilaku berolahraga di kalangan mahasiswa, populasi yang diteliti dapat mencakup semua mahasiswa di suatu universitas, dengan karakteristik yang meliputi usia, jenis kelamin, dan jurusan studi. Penentuan populasi yang jelas sangat penting karena membantu peneliti dalam mengumpulkan data yang relevan dan representatif. Dengan mengidentifikasi karakteristik yang spesifik, peneliti dapat memastikan bahwa data yang dikumpulkan mencerminkan kondisi yang sebenarnya di lapangan. Data ini kemudian dianalisis untuk menarik kesimpulan yang dapat diaplikasikan pada populasi yang lebih luas. Selain itu, dalam banyak kasus, peneliti tidak selalu melakukan penelitian terhadap seluruh populasi. Peneliti sering mengambil sampel dari populasi tersebut untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.

Pengambilan sampel ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan informasi yang valid tanpa harus menguji setiap individu dalam populasi, yang mungkin tidak praktis atau memakan waktu. Dengan pemahaman yang baik tentang populasi, peneliti dapat menghindari bias dan memastikan bahwa hasil penelitian mencerminkan realitas yang ada. Selain itu, peneliti dapat mengidentifikasi variabel-variabel yang penting untuk dianalisis, sehingga hasilnya dapat memberikan wawasan yang berguna untuk pengambilan keputusan atau pengembangan kebijakan yang berkaitan dengan fenomena yang diteliti. Populasi menurut Sugiyono (2017:215) adalah “Wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa keseluruhan objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti. Dengan kata lain, populasi mencakup semua elemen yang menjadi fokus studi. Misalnya, jika seorang peneliti ingin mempelajari kebiasaan olahraga di kalangan mahasiswa, populasi yang dimaksud bisa mencakup semua mahasiswa di universitas tertentu. Karakteristik yang ditetapkan di sini adalah status sebagai mahasiswa. Setelah peneliti menentukan populasi, mereka bisa mengambil sampel dari populasi tersebut untuk penelitian. Hasil analisis dari sampel ini kemudian digunakan untuk menarik kesimpulan yang bisa digeneralisasi kembali ke seluruh populasi.

Kemudian di lanjutkan oleh Suryani dan Hendryadi (2015:190-191) “Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau benda yang memiliki karakteristik tertentu dan dijadikan objek penelitian”. Maksud dari kutipan tersebut adalah Populasi adalah sekumpulan individu, kejadian, atau objek yang memiliki karakteristik tertentu dan menjadi fokus dalam suatu penelitian. Karakteristik ini bisa berupa usia, jenis kelamin, lokasi, perilaku, atau atribut lainnya yang relevan dengan tujuan penelitian. Misalnya, Sekelompok pemain bola basket di sebuah liga, misalnya semua pemain di Liga Bola Basket Indonesia (IBL). Karakteristik yang ditetapkan adalah status sebagai pemain bola basket profesional. Dengan mendefinisikan populasi ini, peneliti dapat mengumpulkan data mengenai performa permainan, kebiasaan latihan, atau dampak cedera, dan menarik kesimpulan yang dapat diaplikasikan kepada seluruh pemain dalam liga tersebut. Dengan menentukan populasi, peneliti dapat mengumpulkan data yang relevan dan menarik kesimpulan yang dapat diaplikasikan kembali ke seluruh kelompok tersebut.

Populasi memberikan konteks yang jelas untuk penelitian dan membantu peneliti memahami fenomena yang ingin diteliti. Sujarweni (2016:4) menguatkan bahwa “Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Maksud dari definisi tersebut adalah bahwa populasi mencakup seluruh elemen atau individu yang menjadi fokus penelitian. Elemen-elemen ini memiliki karakteristik dan kualitas tertentu yang ditentukan oleh peneliti sesuai dengan tujuan studi. Contohnya, jika seorang peneliti ingin mempelajari kebiasaan berolahraga di kalangan remaja, maka populasi yang dimaksud bisa berupa semua remaja di suatu daerah tertentu. Karakteristik yang ditetapkan adalah usia (remaja) dan kebiasaan berolahraga. Dengan menentukan populasi, peneliti dapat mengumpulkan data dari seluruh kelompok ini. Setelah data dianalisis, peneliti dapat menarik kesimpulan yang mencerminkan pola atau tren yang ada dalam populasi tersebut. Kesimpulan ini bisa digunakan untuk memahami fenomena lebih luas yang relevan dengan karakteristik yang diteliti.

a.       Populasi Terbatas

Populasi Terbatas (Finite Population) adalah populasi yang dapat dihitung jumlahnya. Namun, terkadang populasi terbatas sangat besar, sehingga dapat diperlakukan sebagai populasi tak terbatas untuk kesimpulan statistic (generalisasi). Misalnya, jumlah kelahiran pertahun, jumlah kendaraan yang melintas di jalan tol dan jumlah mahasiswa dalam suatu universitas.

b.      Populasi Tak Terbatas

Populasi tak terbatas merupakan populasi yang tidak memungkinkan untuk dihitung jumlahnya secara keseluruhan. Misalnya, menguhitung jumlah ikan di lautan dan jumlah bakteri di dalam tubuh.

2.      Sampel

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu. Sampel akan diambil jika peneliti tidak sanggup untuk melakukan penelitian dengan mengambil data langsung dari populasi. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili keseluruhan kelompok dalam suatu penelitian. Pemilihan sampel penting karena memungkinkan peneliti mengumpulkan data tanpa harus menguji seluruh populasi, yang seringkali tidak praktis. Sampel harus dipilih secara hati-hati agar mencerminkan karakteristik populasi, sehingga hasil penelitian dapat diandalkan. Ada berbagai metode pengambilan sampel, seperti pengambilan sampel acak, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, dan pengambilan sampel bertujuan, di mana individu dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Ukuran sampel juga penting; sampel yang terlalu kecil dapat menghasilkan hasil yang tidak representatif, sementara sampel yang terlalu besar mungkin tidak efisien. Dengan menggunakan sampel, peneliti dapat melakukan analisis statistik untuk menarik kesimpulan tentang populasi yang lebih luas. Hasil dari analisis ini memberikan wawasan berharga untuk pengambilan keputusan di berbagai bidang.

Menurut Bahri (2018:51) “Sampel merupakan sebagian dari populasi, atau kelompok kecil yang diamati”. Hal ini menjelaskan tentang Sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan dalam penelitian atau analisis untuk mewakili karakteristik atau perilaku populasi secara keseluruhan. Populasi merujuk pada keseluruhan individu atau objek yang memiliki karakteristik tertentu yang sedang diteliti. Dalam banyak kasus, tidak mungkin atau tidak praktis untuk mengamati seluruh populasi, sehingga peneliti memilih sampel, yang terdiri dari sejumlah individu yang diambil dari populasi tersebut. Tujuan dari pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi yang valid dan dapat diandalkan tentang populasi dengan cara yang lebih efisien. Melalui analisis sampel, peneliti dapat menarik kesimpulan atau generalisasi tentang populasi tanpa perlu mengamati setiap individu. Ada berbagai metode pengambilan sampel, seperti sampling acak, sampling stratifikasi, dan sampling sistematis, yang dapat mempengaruhi representativitas sampel. Secara keseluruhan, sampel merupakan alat penting dalam riset untuk memahami dan menarik kesimpulan tentang populasi yang lebih besar. Dilanjutkan oleh Neolaka (2014:42) yang mengatakan bahwa “Sampel adalah sebagian unsur populasi yang dijadikan objek penelitian, sampel atau juga sering disebut contoh adalah wakil dari populasi yang ciri-cirinya akan diungkapkan dan akan digunakan untuk menaksir populasi”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil untuk tujuan penelitian. Dalam konteks ini, sampel berfungsi sebagai wakil dari populasi yang lebih besar. Dengan kata lain, ciri-ciri atau karakteristik yang ada pada sampel diharapkan dapat mencerminkan ciri-ciri populasi secara keseluruhan.

Maksud dari pernyataan diatas adalah bahwa peneliti tidak perlu mengamati setiap individu dalam populasi, yang sering kali tidak praktis atau memakan waktu. Sebagai gantinya, peneliti memilih sejumlah individu dari populasi untuk dijadikan sampel. Informasi yang diperoleh dari sampel ini kemudian digunakan untuk membuat estimasi atau analisis tentang populasi secara umum. Teknik sampling yang digunakan dalalm peneltian dengan menggunakan random sampling yaitu. Pemgambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata. Sampel yang digunakan sebanyak 80 responden dari populasi sebanyak 100 responden. Dilanjutkan oleh Sugiyono, (2017:81) “Sampel ialah bagian dari populasi yang menjadi sumber data dalam penelitian, dimana populasi merupakan bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi”. Pernyataan tersebut menjelaskan hubungan antara sampel dan populasi dalam konteks penelitian. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk menjadi sumber data. Dalam hal ini, populasi merujuk pada keseluruhan individu atau objek yang memiliki karakteristik tertentu yang sedang diteliti. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa populasi terdiri dari berbagai karakteristik yang ada pada semua anggotanya. Namun, karena mengamati seluruh populasi sering kali tidak praktis atau tidak mungkin, peneliti memilih sampel. Sampel ini diharapkan mencerminkan karakteristik yang ada dalam populasi. Melalui analisis data yang diperoleh dari sampel, peneliti dapat menarik kesimpulan atau membuat generalisasi mengenai populasi secara keseluruhan. Keberhasilan penelitian bergantung pada seberapa representatif sampel tersebut terhadap populasi yang lebih besar.

3.      Jenis-jenis sampling

Pengambilan sampel atau sampling merupakan proses penting dalam penelitian yang menentukan kualitas dan validitas data yang diperoleh. Sampling adalah teknik atau metode yang digunakan untuk memilih sebagian unit dari populasi agar dapat mewakili keseluruhan populasi tersebut. Sampling adalah proses pemilihan sejumlah individu atau objek dari populasi untuk dijadikan sampel dalam penelitian. Tujuan utama dari sampling adalah untuk mendapatkan informasi atau data yang representatif tentang populasi tanpa perlu mengamati seluruh anggota populasi. Dengan menggunakan teknik sampling, peneliti dapat membuat estimasi atau generalisasi mengenai karakteristik populasi berdasarkan analisis sampel yang diambil. Ada berbagai metode sampling, seperti sampling acak, sampling stratifikasi, dan sampling sistematis, yang masing-masing memiliki cara dan tujuan yang berbeda dalam pemilihan sampel. Proses sampling yang baik sangat penting untuk memastikan bahwa hasil penelitian dapat diandalkan dan valid. Pemilihan jenis sampling harus disesuaikan dengan tujuan penelitian, karakteristik populasi, serta kondisi lapangan. Teknik sampling yang tepat akan menghasilkan sampel yang representatif sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi dengan baik. Secara umum, sampling dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu probability sampling dan non-probability sampling. Masing-masing jenis memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami oleh peneliti agar dapat memilih metode yang paling sesuai.

Menurut Nazir (2015), "Sampling adalah proses pengambilan sebagian unit dari populasi yang akan diteliti”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa sampling adalah tindakan memilih sebagian unit dari populasi yang akan dijadikan objek penelitian. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa peneliti tidak perlu melihat atau mengamati seluruh populasi, yang sering kali tidak praktis atau memakan waktu. Sebagai gantinya, peneliti hanya mengambil sebagian kecil dari populasi tersebut, yang dikenal sebagai sampel. Proses ini bertujuan untuk mendapatkan data yang dapat mewakili karakteristik atau perilaku populasi secara keseluruhan.

 Kemudian, Sugiyono melanjutkan (2017) yang menjelaskan bahwa "Sampling dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu probability sampling dan non-probability sampling." Probability sampling memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota populasi untuk dipilih sebagai sampel, sehingga hasilnya lebih representatif dan dapat digeneralisasi. Contoh teknik ini antara lain simple random sampling, stratified sampling, dan cluster sampling. Sebaliknya, non-probability sampling tidak memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota populasi dan biasanya digunakan dalam penelitian eksploratif atau ketika populasi sulit dijangkau.

Arikunto (2013) menambahkan bahwa “Probability sampling lebih cocok untuk penelitian kuantitatif karena memberikan hasil yang lebih objektif, sedangkan non-probability sampling sering digunakan dalam penelitian kualitatif. Pemilihan jenis sampling harus disesuaikan dengan tujuan dan kondisi penelitian agar data yang diperoleh valid dan dapat dipercaya”. Pernyataan tersebut menjelaskan perbedaan antara dua jenis teknik pengambilan sampel: probability sampling dan non-probability sampling, serta relevansi masing-masing dalam konteks penelitian kuantitatif dan kualitatif. Probability Sampling adalah teknik di mana setiap individu dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Metode ini cenderung menghasilkan data yang lebih objektif dan dapat diandalkan. Dalam penelitian kuantitatif, di mana tujuan utama adalah untuk membuat generalisasi dan analisis statistik, penggunaan probability sampling sangat penting. Dengan cara ini, hasil yang diperoleh lebih representatif dan mencerminkan karakteristik populasi secara keseluruhan. Non-Probability Sampling, di sisi lain, tidak memberikan setiap anggota populasi kesempatan yang sama untuk dipilih. Teknik ini sering digunakan dalam penelitian kualitatif, yang lebih fokus pada pemahaman mendalam tentang fenomena atau pengalaman individu. Metode ini memungkinkan peneliti untuk memilih sampel berdasarkan kriteria tertentu atau kemudahan akses, yang dapat memberikan wawasan yang lebih kaya tetapi mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih besar.

 

 

 

1.      Non-Probability Sampling

Teknik Non-Probability Sampling adalah metode pengambilan sampel dimana tidak semua anggota dalam sebuah populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Artinya, terdapat perbedaan dalam kesempatan yang umumnya diakibatkan oleh subjektifitas peneliti dalam memilih sampel dari antara populasi. Dalam kenyataannya tidak selalu peneliti dapat menggunakan probability sampling yang diambil seeara random. Misalnya bila tidak ada sampling frame yang lengkap misalnya karena tidak mengetahui besamya populasi, maka tidak dapat menggunakan probability sampling. Keunggulan-keunggulan Non-Probability Sampling adalah murah, digunakan bila tidak ada sampling frame dan digunakan bila populasi menyebar sangat luas sehingga cluster sampling menjadi tidak efisien. Pengambilan sampel dengan teknik Non-Probability Sampling terdiri dari 4 teknik, yaitu:

a.       Purposive Sampling.

Purposive sampling adalah sebuah cara untuk mendapatkan sampel dengan memilih sampel di antara populasi sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti. Pada teknik ini peneliti memilih sampel purposif bertujuan secara subyektif. Pemilihan “sampel bertujuan” ini dilakukan karena mungkin saja peneliti telah memahami bahwa informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dari satu kelompok sasaran tertentu yang mampu memberikan informasi yang dikehendaki karena mereka memang memiliki informasi seperti itu dan mereka memenuhi kriteria yang ditentukan oleh peneliti. Terdapat dua jenis Purposive Sampling yaitu Judgment Sampling dan Quota Sampling seperti yang akan dijabarkan berikut ini:

1)      Judgment Sampling

Sampel ini dipilih dengan menggunakan pertimbangan tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian atau masalah penelitian yang dikembangkan. Misalnya, karena peneliti menyadari bahwa yang memiliki informasi “baik dan benar” mengenai sekolah adalah seorang guru, maka ia menentukan sampelnya adalah para guru bukan kepala sekolah.

2)      Quota Sampling

Quota Sampling ini dilakukan berdasarkan kuota yaitu jumlah tertinggi untuk setiap kategori dalam populasi sasaran. Kuota responden dapat dilakukan berdasarkan jenis industri, skala perusahaan. Sampling kuota sering digunakan dalam riset pasar. Peneliti ingin mendapatkan kasus dengan karakteristik yang sama, maka peneliti menentukan kuota untuk jenis orang yang akan diwawancarai dan kuota tersebut disusun sedemikian rupa sehingga pada akhirnya diharapkan dapat mewakili populasi.

Langkah yang diambil adalah:

a) Memutuskan karakteristik yang dapat mewakili misalnya umur

b) Cari tahu distribusi dari variabel ini dalam populasi dan atas dasar itu tentukan kuotanya. Misalnya bila 15 % dari populasi adalah orang dengan umur antara 20-30 %. Sementara jumlah sampel yang diharapkan adalah 1.000, maka 150 sampel (15%) adalah mereka yang ada para kelompok umur ini.

b.      Consecutive Sampling

Cara ini diterapkan dengan memilih sampel setelah sebelumnya menetapkan kriteria yang harus dipenuhi. Sampel diambil dalam suatu kurun waktu yang telah ditetapkan oleh peneliti sampai jumlah sampel terpenuhi. Misalnya seorang peneliti akan meneliti sekolah swasta tingkat SMA dengan pemasaran terbaik dalam satu provinsi. Maka peneliti memutuskan hanya memiliki 1 sekolah perkabupaten yang memiliki jumlah peminat terbanyak.

c.       Convinience Sampling

Metode ini menggunakan subjektifitas peneliti (spontanitas). Jika peneliti menilai bahwa sebuah subjek memenuhi kriteria dan kesempatan peneliti juga ada, maka pengambilan data dilakukan. Tetapi jika peneliti merasa bahwa penelitian harus dihentikan, maka penelitian pun harus dihentikan. Pada teknik ini, peneliti hanya sekedar menghentikan seseorang di pinggir jalan yang sedang akan ke toko atau yang sedang jalan-jalan di toko atau restoran atau gedung bioskop menghentikan orang lalu bertanya apakah ia bersedia untuk menjawab pertanyaan. Bila ia bersedia, segeralah proses wawancana dilakukan. Dengan kata lain disini sampel terdiri dari orang-orang yang tersedia dan mudah bagi penelitinya untuk memulai wawancara. Dalam teknik seperti ini tidak ada “randomness” dan kemungkinan biasnya tinggi. Sulit untuk menarik sebuah konklusi yang mendalam dari hasil yang diperoleh. Namun demikian metode ini kadang kala merupakan satu-satunya yang mungkin dilakukan, khususnya bagi para mahasiswa atau mereka yang memiliki waktu dan dana yang terbatas, bila demikian, metode inidapat digunakan sepanjang dijelaskan juga berbagai keterbatasannya. Karena teknik ini merupakan pendekatan yang sangat acak-sembarangan, beberapa peneliti pemula akan cenderung tergoda untuk menggunakan kata “random-acak” dalam menjelaskan sampel mereka dimana mereka secara acak menyetop orang dipinggir jalan dan hal ini dipandangnya sebagai sesuai yang random.

d.      Snowball Sampling

Dalam pendekatan ini, peneliti mula-mula mengontak beberapa responden potensial dan menanyakan mereka apakah mereka mengenal seseorang dengan karakteristik yang sama yang dicari dalam penelitian ini, Misalnya jika peneliti ingin memawancarai seorang manajer penjualan, peneliti harus mencari manajer penjualan yang dikenal lalu meminta tolong padanya untuk mencarikan lagi manajer penjualan selevel dia yang dapat dijadikan sampel. Teknis lebih dominan menujukkan rekomendasi sampling, dimana para sampel akan saling merekomendasikan rekan- rekan lainnya yang layak dijadikan sampel rekomendasi untuk menguatkan data penelitian.

2.      Probability Sampling

Secara sederhana, probability sampling adalah metode pengambilan sampel dimana keseluruhan anggota populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk terpilih. Artinya, kemungkinan untuk terpilih sebagais sampel memiliki peluang yang sama besar dan merata untuk setiap unit dalam populasi. Teknik pengambilan sampel untuk metode ini adalah sebagai berikut:

a. Metode Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

Metode acak sederhana diterapkan pada populasi yang sangat homogen. Itu sebabnya, dimanapun dan siapapun yang terpilih, tidak akan mempengaruhi hasil yang didapatkan. Metode yang digunakan biasanya adalah mendaftar seluruh populasi lalu dengan sistem lotere, didapatkanlah sampel sesuai dengan besar sampel yang telah ditetapkan sebelumnya. Cara lain yang biasanya digunakan juga adalah dengan menggunakan table bilangan random. Tabel bilangan random biasanya tersedia di buku yang membahas metodologi penelitian. Dengan menggunakan table Krejcie-Morgan dengan tingkat kesalahan (5 %). Misalnya seorang peneliti akan meneliti dengan jumlah populasi 300 orang maka menurut tabel Krejcie-Morgan jumlah sampelnya 169 orang

b. Metode Sistematis (Sistematic Sampling)

Metode ini adalah sebuah metode yang sistematis. Asumsi yang digunakan sama dengan metode yang sebelumnya, yaitu bahwa terdapat distribusi yang homogeny di dalam populasi. Dengan menggunakan jarak yang merupakan pembagian antara populasi dengan sampelnya, maka ditemukan sebuah pola. Misalnya pada jika jumlah populasi adalah sebesar 200 orang sementara jumlah sampel adalah 10 orang, maka sampel terpilih adalah urutan yang sesuai dengan (100/10=10), yaitu sampel nomor urut 1, 10, 20,30,40,50,60,70,80,90, dan100. Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan.

c. Metode Acak Berlapis (Stratified Random Sampling)

Metode ini digunakan jika di dalam populasi terdapat berbedaan atau strata tertentu. Teknik sampling dalam pengambilan sampel pada penelitian ini digunakan dengan teknik dimana sampel penelitian atau responden ditentukan menggunakan strata keluarga. Contoh: Dosen Universitas Budi Darma Sejahtera dengan jumlah 300 orang dikelompokkan berdasarkan strata pendidikan terakhir yaitu (S1=170, S2=100, dan S3=30), dengan menggunakan tabel Krejcie-Morgan dengan tingkat kesalahan (5 %), jumlah sampel penelitian ini adalah 169 orang. Dengan demikian berdasarkan perhitungan, sebagai berikut:

1) Tamatan S1=170/300 x 169 =96 orang

2) Tamatan S2=100/300 x 169 = 56 orang

3) Tamatan S3=30/300 x 169 =169 orang

Jadi jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian adalah 169 orang\

 

d. Metode Kelompok/Gugus (Cluster Sampling)

Metode cluster sampling adalah metode dimana diasumsikan bahwa populasi memiliki kelompok-kelompok yang satu sama lain memiliki karakteristik yang hampir sama. Itu sebabnya penelitian terhadap satu kelompok saja dianggap merupakan penelitian terhadap populasi tersebut. Teknik ini dgunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti sangat luas. Penduduk dari sebuah kabupaten, provinsi, atau level negara. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Misalnya di Indonesia dengan provinsi 38 dan sampelnya menggunakan 15 provinsi pengambilan provinsi itu dilakukan secara random. Namun pengambilan secara random perlu dibuat cluster (kelas) sehingga lebih mudah dalam pengambilam sampel. Misalnya ukurannya yang paling banyak penduduknya, yang paling luas hutannya, yang paling tinggi pendapatan daerahnya, yang paling miskin provinsinya, dan lainnya sebagainya.

e. Metode Bertahap (Multistage Sampling)

Dalam keadaan dimana terdapat populasi yang sangat besar dengan tingkat sebaran yang luas disertai karakteristik yang sangat berbeda-beda, maka diperlukan metode pengambilan sampel yang mengkombinasikan seluruh metode. Metode ini disebut sebagai multistage sampling. Memilih teknik sampling yang paling tepat tentunya tidak mudah. Diperlukan pengetahuan terhadap populasi. Semakin homogen populasi semakin mudah menentukan teknik samplingnya karena diasumsikan bahwa teknik sampling tidak akan mempengaruhi kualitas data. Akan tetapi semakin tidak homogeny sebuah populasi diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang harus dikombinasikan dengan kemampuan peneliti, waktu, dana, tenaga serta ketersediaan data-data di populasi itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OLAHRAGA PETANQUE

  5.        Panduan Dasar Bermain Petanque Olahraga Petanque merupakan cabang olahraga ketepatan yang menuntut kontrol teknik, konsentrasi, ...