4.5 faktor-faktor latihan progresif
Faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan latihan progresif mencakup tujuh komponen fundamental yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam program latihan jangka panjang, yaitu: pertama, peningkatan beban secara bertahap (progressive overload) yang menjadi fondasi utama dari seluruh konsep progresivitas di mana tubuh dipaksa untuk beradaptasi terhadap tuntutan yang semakin meningkat; kedua, pengaturan intensitas (persentase dari beban maksimal atau detak jantung cadangan) dan volume latihan (jumlah set, repetisi, serta durasi) secara sistematis karena keseimbangan antara kedua variabel ini menentukan apakah terjadi superkompensasi atau justru kelelahan akumulatif; ketiga, frekuensi latihan per minggu yang harus disesuaikan dengan kapasitas pemulihan individu dan tuntutan energi dari setiap sesi, mengingat latihan yang terlalu jarang tidak akan memicu adaptasi optimal sementara latihan yang terlalu sering tanpa istirahat cukup akan mengarah pada overtraining; keempat, periode istirahat dan pemulihan aktif yang cukup, baik dalam bentuk jeda antarset (30 detik hingga 5 menit tergantung tujuan latihan), hari istirahat penuh, maupun minggu pemulihan (*deload week*), karena tanpa pemulihan maka kerusakan jaringan tidak akan pernah diperbaiki secara sempurna; kelima, spesifisitas gerakan di mana jenis latihan yang dipilih harus relevan secara biomekanik dan metabolik dengan tuntutan fisiologis cabang olahraga atau tujuan kebugaran tertentu, misalnya latihan pliometrik untuk pelompat jauh atau latihan beban multisendi untuk kekuatan fungsional; keenam, variasi stimulus secara periodik untuk menghindari adaptasi monoton yang menyebabkan stagnasi (*plateau*), yang dapat diwujudkan melalui perubahan pola repetisi, modifikasi sudut gerakan, pergantian alat latihan, atau penerapan metode seperti *drop set*, *superset*, hingga latihan eksentrik; dan ketujuh, individualisasi program yang mempertimbangkan perbedaan unik antarindividu seperti usia kronologis dan biologis, jenis kelamin, riwayat cedera, tingkat kebugaran awal, respons hormonal terhadap latihan, bahkan preferensi psikologis terhadap jenis aktivitas tertentu, karena program yang sama dapat menghasilkan adaptasi yang sangat berbeda pada dua orang yang berbeda pula; tanpa integrasi ketujuh faktor tersebut secara simultan dan seimbang, respons adaptasi tubuh tidak akan berjalan optimal dan risiko cedera akibat ketidakseimbangan antara stimulus dan kapasitas pemulihan akan meningkat secara drastis seiring berjalannya waktu. Menurut Tudor O. Bompa (2009, hlm. 67), prinsip beban berlebih (*overload*) mengharuskan peningkatan stimulus latihan secara bertahap, terukur, dan berkesinambungan untuk memicu mekanisme superkompensasi—yakni suatu fenomena fisiologis di mana tubuh tidak hanya kembali ke level semula setelah periode pemulihan, tetapi justru melampauinya dengan kapasitas kinerja yang lebih tinggi dari sebelumnya—dan penjelasan Bompa ini menegaskan bahwa otot rangka, sistem kardiovaskular, sistem respirasi, serta sistem saraf pusat hanya akan mengalami adaptasi struktural dan fungsional jika terus-menerus ditantang melampaui ambang beban normalnya, namun peningkatan tersebut harus dilakukan dalam rentang yang aman (sekitar 2–10% per minggu tergantung pada jenis latihan, kelompok otot, dan tingkat pengalaman atlet) karena lonjakan beban yang terlalu drastis tanpa periode penyesuaian yang memadai justru akan menyebabkan cedera jaringan lunak seperti robekan serat otot, mikrotrauma berlebihan yang tidak sempat diperbaiki, serta sindrom overtraining yang berkepanjangan yang membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya. Selanjutnya, Vladimir M. Zatsiorsky (2006, hlm. 112) menjelaskan bahwa variasi periodisasi dalam latihan progresif sangat krusial karena tubuh manusia memiliki kemampuan adaptasi yang sangat cepat terhadap beban tetap (*steady-state*), sehingga tanpa adanya siklus naik-turun intensitas yang direncanakan secara ilmiah—seperti dalam model periodisasi linier (peningkatan intensitas bertahap dengan penurunan volume), periodisasi blok (pemusatan pada satu kemampuan biomotor dalam blok waktu pendek), atau periodisasi gelombang/undulasi (perubahan intensitas antarminggu atau bahkan antarsesi)—maka atlet akan mengalami *plateau* atau stagnasi peningkatan kekuatan dan daya tahan meskipun volume latihan terus ditambah secara linear, dan Zatsiorsky menekankan bahwa perubahan periodik antara fase akumulasi (volume tinggi dengan intensitas sedang yang bertujuan membangun dasar struktural), fase intensifikasi (volume rendah dengan intensitas tinggi yang bertujuan memaksimalkan neural drive dan output kekuatan), serta fase pelepasan beban (*deload*) yang berfungsi sebagai periode restorasi aktif merupakan strategi kunci untuk mencegah kebosanan neurologis, mengoptimalkan adaptasi jangka panjang tanpa cedera, serta memungkinkan pemulihan sistemik secara menyeluruh tanpa kehilangan kebugaran yang telah dicapai dengan susah payah selama siklus latihan sebelumnya. Terakhir, menurut William J. Kraemer dan Nicholas A. Ratamess (2004, hlm. 679), faktor pemulihan aktif dan istirahat yang cukup merupakan komponen tak terpisahkan dari progresivitas latihan, karena proses perbaikan jaringan otot (melalui sintesis protein miofibrillar yang dimediasi oleh jalur sinyal mTOR), pengisian kembali glikogen otot dan hati yang merupakan sumber energi utama untuk kontraksi berulang, serta remodeling sistem saraf pusat dan perifer (termasuk pemulihan densitas reseptor neurotransmitter dan konduksi saraf) hanya terjadi selama fase istirahat, terutama pada tidur nyenyak fase NREM dan REM serta pada hari pemulihan aktif dengan intensitas rendah (misalnya jalan santai atau peregangan dinamis); Kraemer dan Ratamess secara tegas menyatakan bahwa tanpa waktu regenerasi yang memadai di antara sesi latihan—minimal 24 hingga 48 jam untuk kelompok otot yang sama pada individu terlatih, dan lebih lama bagi pemula—maka peningkatan beban yang terus-menerus tanpa jeda pemulihan yang proporsional justru akan mengakumulasi kelelahan kronis yang bersifat sistemik, menyebabkan ketidakseimbangan hormon katabolik (kortisol yang meningkat secara persisten) versus hormon anabolik (testosteron, hormon pertumbuhan, dan insulin-like growth factor-1 yang menurun drastis), serta mengarah pada overtraining syndrome yang ditandai dengan penurunan performa berkepanjangan yang tidak membaik meskipun diberikan istirahat singkat, gangguan suasana hati seperti depresi dan apatis, peningkatan frekuensi infeksi saluran pernapasan atas akibat imunosupresi, gangguan pola tidur, kehilangan nafsu makan, serta peningkatan risiko cedera muskuloskeletal seperti tendinopati, stres fraktur, dan cedera ligamen, sehingga dalam praktiknya setiap program latihan progresif yang dirancang secara ilmiah harus mengalokasikan waktu pemulihan yang cukup sebelum memberikan beban yang lebih tinggi lagi, dengan prinsip bahwa kemajuan sejati tidak terjadi saat latihan berlangsung, melainkan saat tubuh beristirahat dan membangun dirinya kembali menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
4.6 perilaku dalam olahraga
‘Insiden "tendangan kungfu" dalam laga Liga 4 Jawa Timur antara Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung pada 5 Januari 2026’
Link Video : https://youtu.be/ZrpzlM946Iw?si=Vcbag6LXzYxrgW-E
Video ini diunggah oleh kanal berita olahraga yang mendokumentasikan aksi brutal pemain bernomor punggung 10, M Hilmi dari Putra Jaya Pasuruan, yang melakukan tendangan tinggi ke dada pemain Perseta, Firman Nugraha, hingga korban harus ditandu keluar lapangan.
Di YouTube: “Tendangan Kungfu Liga 4 Jatim Putra Jaya vs Perseta 2026"
· Aksi (Pemicu Masalah)
Dalam video tersebut, terlihat seorang pemain bernama ‘M Hilmi’ dari Putra Jaya Pasuruan melakukan tekel yang sangat berbahaya. Saat berebut bola di tengah lapangan, ia mengangkat kakinya setinggi dada (seperti gerakan "kungfu") dan membantingkan telapak kakinya ke area dada pemain lawan, Firman Nugraha .
Tindakan ini bukanlah refleks alami dalam sepak bola. Tendangan setinggi itu tanpa niat menyentuh bola mengindikasikan adanya frustrasi agresif atau niat untuk mengintimidasi lawan. Dalam psikologi olahraga, ini sering disebut sebagai loss of emotional control di mana atlet gagal mengelola emosi, biasanya dipicu oleh tekanan pertandingan, rasa terdesak, atau dendam pribadi terhadap lawan.
· Reaksi (Dampak Berantai & Efek Buruk)
· 1. Dampak pada Fisik & Psikis
Ø Fisik: Firman Nugraha mengalami benturan keras di dada. Reaksi langsung adalah ia terkapar dan harus mendapat perawatan medis intensif di pinggir lapangan. Ini berpotensi menyebabkan cedera serius seperti memar paru-paru atau patah tulang rusuk .
Ø Psikis: Kejadian seperti ini dapat meninggalkan trauma psikologis (sports trauma) yang membuat atlet takut untuk melakukan duel fisik 50:50 di pertandingan-pertandingan selanjutnya.
2. Dampak pada Pelaku (Sanksi Berat)
· Kartu Merah Langsung: Wasit langsung mengusir Hilmi dari lapangan, membuat timnya bermain dengan jumlah 10 orang (inferior number).
· Ancaman Hukuman Seumur Hidup: Ini adalah bagian paling berat. Ketua Komdis PSSI, Umar Husin, secara tegas menyatakan bahwa insiden ini harus dihukum seberat-beratnya, termasuk kemungkinan larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup . Ini berarti karir profesional pemain tersebut bisa berakhir hanya karena satu detik kehilangan kendali.
3. Dampak pada Tim (Kerugian Kolektif)
· Kerugian Taktis: Tim Putra Jaya harus bermain dengan 10 orang, yang secara signifikan melemahkan strategi dan peluang mereka untuk memenangkan pertandingan.
· Kerugian Moral & Reputasi: Klub secara keseluruhan mendapat citra negatif. Publik akan melabeli tim tersebut sebagai tim "kasar" atau "brutal". Ini bisa mempengaruhi mental pemain lain yang tidak bersalah, karena mereka harus menanggung beban aib yang dibuat oleh rekan setimnya.
4. Dampak pada Ekosistem Olahraga (Efek Sistemik)
· Peringatan untuk Semua:Komdis PSSI menggunakan kasus ini sebagai "alarm keras" bahwa keselamatan atlet adalah prioritas mutlak. Ini menjadi preseden hukum bahwa tindakan kekerasan tidak akan ditoleransi, bahkan di kompetisi kasta bawah seperti Liga 4 .
· Kerusakan Fair Play:Tindakan seperti ini merusak esensi olahraga sebagai ajang sportivitas dan menjadikan sepak bola tontonan kekerasan yang tidak mendidik, terutama bagi penonton muda.
Mengapa Ini Terjadi?
Menurut pengamat sepak bola nasional, Tommy Welly (dikutip dalam analisis Kompas.com), perilaku brutal di lapangan tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor pemicu :
1. Karakter & Personality: Ini adalah faktor utama. Atlet yang memiliki kontrol emosi rendah atau pola asuh yang tidak mengajarkan sportivitas sejak dini cenderung brutal saat tertekan.
2. Edukasi yang Gagal: Jika sejak level grass root (akar rumput), pemain tidak diajarkan respect terhadap lawan dan wasit, maka saat dewasa mereka akan menganggap kekerasan sebagai bagian dari strategi.
3. Tekanan Target: Dalam kasus tertentu, tekanan untuk menang (misalnya karena adanya bonus besar atau target promosi) bisa membuat pemain "over agresif" dan kehilangan nalar.
4.7 Periode Dalam Sesi Latihan
4.7.1 warming up
Warming up atau pemanasan merupakan fase persiapan yang secara fisiologis berfungsi meningkatkan suhu inti tubuh secara bertahap dari kondisi istirahat menuju kondisi siap kerja, selain itu pemanasan juga berperan dalam meningkatkan aliran darah ke otot-otot rangka melalui mekanisme vasodilatasi pembuluh darah kapiler, pemanasan yang efektif juga mampu meningkatkan elastisitas jaringan ikat seperti tendon dan ligamen sehingga menurunkan risiko cedera muskuloskeletal, di samping itu pemanasan memberikan waktu bagi sistem saraf pusat untuk mengaktifkan unit motorik secara bertahap sebelum menerima beban berat, pemanasan yang terstruktur dengan baik juga mempersiapkan sistem kardiovaskular dengan menaikkan denyut jantung secara perlahan hingga mencapai zona target latihan, pemanasan yang terdiri dari gerakan dinamis terbukti lebih unggul dibandingkan peregangan statis dalam meningkatkan rentang gerak sendi tanpa mengurangi kekuatan otot, serta pemanasan yang dilakukan selama 10 hingga 15 menit telah menjadi standar emas dalam ilmu kepelatihan untuk mencegah cedera dan mengoptimalkan performa saat kegiatan inti dimulai.
Menurut Tudor O. Bompa dan G. Gregory Haff (2009, hlm. 276-278) dalam bukunya Periodization: Theory and Methodology of Training, pemanasan umum (general warm-up) yang dilanjutkan dengan pemanasan spesifik (specific warm-up) harus dirancang secara berurutan karena pemanasan umum meningkatkan suhu tubuh secara menyeluruh melalui aktivitas aerobik ringan seperti jogging selama 5-10 menit, sementara pemanasan spesifik meniru pola gerakan yang akan dilakukan dalam kegiatan inti dengan intensitas yang semakin meningkat, dan Bompa & Haff menegaskan bahwa melewatkan salah satu tahapan ini akan menyebabkan transisi yang terlalu tajam dari istirahat ke kerja berat, yang dapat mengakibatkan iskemia otot (kekurangan aliran darah) dan peningkatan risiko cedera hamstring atau rotator cuff secara signifikan; selanjutnya, menurut Ian Jeffreys (2019, hlm. 45-47) dalam Journal of Sport Rehabilitation, konsep RAMP (Raise, Activate, Mobilize, Potentiate) telah menjadi standar modern dalam pemanasan, di mana fase Raise berfungsi menaikkan suhu tubuh dan denyut jantung, fase Activate mengaktifkan otot-otot kunci yang sering kali lemah seperti gluteus medius dan serratus anterior, fase Mobilize meningkatkan mobilitas sendi melalui gerakan dinamis seperti leg swings dan torso twists, sementara fase Potentiate melakukan gerakan eksplosif intensitas tinggi seperti lompatan pendek untuk mempersiapkan sistem saraf pusat, dan Jeffreys menjelaskan bahwa tanpa keempat fase tersebut secara lengkap, atlet akan memasuki kegiatan inti dalam kondisi neural underdrive yang menyebabkan output kekuatan hanya mencapai 70-80% dari potensi sebenarnya meskipun secara subjektif merasa sudah siap; terakhir, menurut David G. Behm dan Anis Chaouachi (2011, hlm. 146-148) dalam Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports, peregangan statis yang melebihi 60 detik per kelompok otot dalam pemanasan justru terbukti menurunkan kekuatan otot hingga 5-30% selama 60 menit berikutnya karena mekanisme neuromuskular yang menghambat eksitabilitas alfa motor neuron, sehingga rekomendasi mereka adalah peregangan dinamis atau aktivitas spesifik olahraga yang lebih efektif untuk pemanasan, dan Behm & Chaouachi menekankan bahwa banyak pelatih masih melakukan kesalahan dengan memasukkan peregangan statis panjang sebelum latihan kekuatan atau kecepatan, padahal efek pelemahan (performance decrement) ini telah terkonfirmasi melalui meta-analisis terhadap 31 studi yang melibatkan lebih dari 1.000 partisipan.
4.7.2 Kegiatan Inti
Kegiatan inti atau latihan utama merupakan fase kerja pusat dalam sebuah sesi latihan di mana stimulus beban diberikan secara sistematis untuk memicu adaptasi fisiologis jangka panjang, kegiatan inti harus dirancang berdasarkan prinsip spesifisitas artinya jenis latihan harus relevan dengan tuntutan cabang olahraga atau tujuan kebugaran yang ingin dicapai, kegiatan inti juga harus menerapkan prinsip beban berlebih (overload) secara progresif agar tubuh terus dipaksa beradaptasi melampaui kemampuan sebelumnya, di samping itu kegiatan inti membedakan antara latihan rekreasional (hanya bergerak) dengan latihan terstruktur (memiliki tujuan kuantitatif dan kualitatif), kegiatan inti yang efektif selalu didahului oleh pemanasan yang memadai dan diikuti oleh pendinginan yang cukup agar tidak terjadi cedera, kegiatan inti juga harus mempertimbangkan keseimbangan antara volume (jumlah repetisi dan set) dengan intensitas (persentase beban maksimal), serta kegiatan inti tanpa periodisasi yang jelas akan menyebabkan stagnasi atau plateau karena tubuh cepat beradaptasi terhadap stimulus yang sama berulang-ulang.
Menurut Vladimir M. Zatsiorsky dan William J. Kraemer (2006, hlm. 112-115) dalam Science and Practice of Strength Training, kegiatan inti dalam latihan kekuatan harus mengikuti prinsip dynamic correspondence di mana parameter biomekanik seperti rentang gerak, arah kontraksi, kecepatan gerakan, serta sistem energi yang digunakan harus sesuai dengan gerakan yang akan dilakukan dalam kompetisi, dan Zatsiorsky & Kraemer menjelaskan bahwa kesalahan paling umum adalah latihan inti yang terlalu umum misalnya hanya menggunakan mesin untuk semua atlet tanpa mempertimbangkan posisi spesifik dalam olahraga, padahal penelitian mereka menunjukkan bahwa peningkatan kekuatan sebesar 20-30% pada gerakan spesifik hanya akan terjadi jika latihan inti mencakup pola gerakan yang identik dengan kompetisi; selanjutnya, menurut James M. Rippe (2019, hlm. 203-205) dalam Lifestyle Medicine, kegiatan inti harus memenuhi rekomendasi minimal dari American College of Sports Medicine (ACSM) yaitu 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu atau 75 menit intensitas berat, ditambah dengan latihan ketahanan otot untuk semua kelompok otot utama minimal dua kali per minggu, serta latihan fleksibilitas minimal dua hingga tiga kali per minggu, dan Rippe menekankan bahwa kegiatan inti yang hanya fokus pada satu komponen kebugaran (misalnya hanya kardio tanpa beban) tidak akan menghasilkan kesehatan metabolik yang optimal karena penelitian longitudinal menunjukkan bahwa kombinasi latihan aerobik dan resistensi memberikan efek sinergis terhadap sensitivitas insulin, kepadatan tulang, serta retensi massa otot pada usia lanjut; terakhir, menurut Michael H. Stone, Meg Stone, dan William A. Sands (2007, hlm. 89-92) dalam Principles and Practice of Resistance Training, kegiatan inti untuk atlet kekuatan harus mengutamakan latihan multi-joint (seperti squat, deadlift, bench press, pull-up) dibandingkan latihan single-joint (seperti leg extension atau bicep curl) karena latihan multi-joint merekrut lebih banyak unit motorik dalam satu waktu, menghasilkan respons hormonal anabolik yang lebih tinggi (testosteron dan growth hormone), serta memiliki transfer efek yang lebih besar terhadap performa olahraga di lapangan, dan Stone dkk. menjelaskan bahwa meskipun latihan single-joint tetap memiliki tempat untuk rehabilitasi atau hypertrophy aksesori, menjadikannya sebagai kegiatan inti tanpa latihan multi-joint akan menghasilkan peningkatan kekuatan fungsional yang sangat terbatas karena tidak melatih koordinasi antar segmen tubuh secara bersamaan.
4.7.3 Cooling Down
Cooling down atau pendinginan merupakan fase pemulihan aktif yang berfungsi mengembalikan sistem fisiologis tubuh secara bertahap dari kondisi latihan intensitas tinggi menuju kondisi istirahat, cooling down yang dilakukan dengan benar dapat mencegah penumpukan darah di ekstremitas bawah yang sering menyebabkan pusing atau pingsan (venous pooling) setelah latihan berhenti mendadak, cooling down juga membantu membersihkan sisa-sisa metabolisme seperti laktat dan ion hidrogen dari dalam otot melalui peningkatan aliran darah yang persisten namun menurun secara perlahan, di samping itu cooling down memberikan kesempatan bagi sistem saraf otonom untuk bertransisi dari dominasi simpatis (fight-or-flight) menuju dominasi parasimpatis (rest-and-digest) yang mendukung pemulihan, cooling down yang dilengkapi dengan peregangan statis dapat mempertahankan atau bahkan sedikit meningkatkan rentang gerak sendi tanpa risiko penurunan kekuatan karena dilakukan saat otot sudah hangat, cooling down yang diabaikan sering kali mengakibatkan nyeri otot tertunda (Delayed Onset Muscle Soreness/DOMS) yang lebih parah dan berkepanjangan, serta cooling down selama 5 hingga 10 menit setelah kegiatan inti telah menjadi standar dalam program latihan untuk atlet profesional maupun rekreasi.
Menurut Robert A. Robergs dan Scott O. Roberts (2011, hlm. 314-316) dalam Exercise Physiology: From a Cellular to an Integrative Approach, pendinginan aktif dengan intensitas sangat rendah (sekitar 30-40% dari denyut jantung maksimal) lebih unggul dibandingkan pendinginan pasif (duduk atau berbaring diam) dalam mengembalikan homeostasis kardiovaskular karena kontraksi otot ringan yang berkelanjutan bertindak sebagai muscle pump yang membantu memompa darah vena dari ekstremitas bawah kembali ke jantung, dan Robergs & Roberts menjelaskan bahwa penghentian latihan secara tiba-tiba pada atlet daya tahan dapat menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik secara drastis (hingga 20-30 mmHg) yang disertai dengan pusing, mual, bahkan pingsan (exercise-associated collapse) karena darah menggenang di kaki dan otak kekurangan suplai oksigen; selanjutnya, menurut W. Larry Kenney, Jack H. Wilmore, dan David L. Costill (2015, hlm. 468-470) dalam Physiology of Sport and Exercise, pendinginan yang dilengkapi dengan peregangan statis selama 15-30 detik per kelompok otot setelah latihan tidak hanya mempertahankan fleksibilitas tetapi juga membantu menurunkan tonus otot yang meningkat selama latihan intensitas tinggi melalui aktivasi organ tendon Golgi yang menghambat ketegangan otot berlebih (autogenic inhibition), dan Kenney dkk. menekankan bahwa peregangan statis di luar sesi latihan (misalnya pagi hari sebelum aktivitas) tidak memiliki efek yang sama karena otot yang dingin justru lebih rentan terhadap cedera saat diregangkan, sehingga penempatan peregangan statis dalam fase cooling down setelah otot hangat adalah strategi paling aman dan efektif untuk meningkatkan fleksibilitas jangka panjang; terakhir, menurut Ina Shaw, Brandon S. Shaw, dan Gregory A. Brown (2015, hlm. 133-135) dalam Journal of Bodywork and Movement Therapies, pendinginan yang dilakukan secara konsisten setelah setiap sesi latihan selama minimal 8 minggu terbukti secara signifikan menurunkan intensitas DOMS (diukur dengan skala nyeri 1-10) sebesar 30-40% dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak melakukan pendinginan, serta mempercepat pemulihan kekuatan otot hingga 48 jam lebih cepat setelah latihan eksentrik yang merusak jaringan, dan Shaw dkk. menjelaskan bahwa mekanisme di balik efek ini adalah pendinginan aktif mempertahankan aliran darah tinggi ke otot selama 10-15 menit pasca-latihan, yang memungkinkan sel-sel satelit memulai proses perbaikan membran sarkolema lebih awal, sementara tanpa pendinginan, proses perbaikan baru dimulai setelah 30-60 menit karena pembuluh darah sudah mengalami vasokonstriksi akibat dominasi sistem saraf simpatis yang masih tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar